Rabu, 05 Desember 2012

Tugas Perilaku Konsumen

Nama : Herru Hermawan. NPM : 13210273. Kelas : 3EA17. Pengaruh kebudayaan terhadap pembelian dan konsumen Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang, terutama dalam perilaku pengambilan keputusan dan perilaku pembelian. Dalam perkembangan sejarah budaya konsumsi maka masyarakat konsumsi lahir pertama kali di Inggris pada abad 18 saat terjadinya tehnologi produksi secara massal. Tehnologi yang disebabkan oleh berkembangnya revolusi industri memungkinkan perusahaan-perusahaan memproduksi barang terstandarisasi dalam jumlah besar dengan harga yang relatif murah. Pada saat yang bersamaan muncul revolusi kebudayaan, di mana masyarakat secara bertahap berubah dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang kekotaan, karena dengan berpindahnya ke perkotaan maka budaya mereka berubah sehingga berkembanglah tata nilai baru dan pola kehidupan yang baru akibat pekerjaan yang berbeda. Tidak hanya orang yang kaya saja bahkan orang yang biasa juga merasa perlu membeli produk yang dapat memuaskan kebutuhan budaya baru, seperti munculnya perbedaan status yang makin menonjol di kalangan masyarakat perkotaan. Gambaran lahirnya masyarakat konsumsi tersebut diatas, menunjukkan pentingnya budaya dalam memahami perilaku konsumen. Aspek-aspek budaya yang penting dapat diidentifikasi sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi konsumen dan tentunya dapat digunakan dalam mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif. DEFINISI KEBUDAYAAN Banyak definisi tentang budaya yang dipaparkan oleh para pakar, diantaranya: Kebudayaan didefinisikan sebagai kompleks simbol dan barang-barang buatan manusia (artifacts) yang diciptakan oleh masyarakat tertentu dan diwariskan dari generasi satu ke generasi yang lain sebagai faktor penentu ( determinants) dan pengatur ( regulator ) perilaku anggotanya (Setiadi, 2003). Budaya adalah seperangkat pola perilaku yang secara sosial dialirkan secara simbolis melalui bahasa dan cara-cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu ( Wallendorf & Reilly, Mowen, 1995). Budaya (culture) sebagai makna yang dimiliki bersama oleh (sebagian besar ) masyarakat dalam suatu kelompok sosial ( Peter & Olson, 2000). Culture is that complex whole that includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society ( Loudan & Della Bitta, 1993) Budaya mengacu pada seperangkat nilai, gagasan, artefak dan simbol bermakna lainnya yang membantu individu berkomunikasi, membuat tafsiran, dan melakukan evaluasi sebagai anggota masyarakat ( Angel, Blackwell& Miniard, 1994). Beberapa definisi budaya telah dipaparkan namun secara garis besar menurut Engel, Blacwell & Miniard (1994 ) budaya dapat dibedakan menjadi Makro budaya ( macroculture ) yang mengacu pada perangkat nilai dan simbol yang berlaku pada keseluruhan masyarakat, dan Mikro budaya ( microculture/ subculture ) yang mengacu pada perangkat nilai dan simbol dari kelompok yang lebih terbatas, seperti kelompok agama, etnis tertentu, atau subbagian dari keseluruhan. Budaya dapat melengkapi diri seseorang dengan rasa identitas dan perilaku yang dapat diterima di masyarakat, terutama dapat diketahui dari sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh budaya. Seperti halnya : pakaian, penampilan, komunikasi, bahasa, makanan dan kebiasaan makan, hubungan, kepercayaan, dan lain sebagainya yang seringkali meliputi semua hal yang konsumen lakukan tanpa sadar memilih karena nilai kultur mereka, adat istiadat dan ritual mereka telah menyatu dalam kebiasaan mereka sehari-hari. Sebagai contoh misalnya komponen budaya di masyarakat Amerika, memiliki sekian nilai yakni : achievement & succes, activity, efficiency & practicality, progress, material comfort, individualism, freedom, humanitarianism, youthfulness, fitness and health and external conformity. PERMASALAHAN DALAM MENGANALISIS BUDAYA Pemasar harus mempertimbangkan beberapa isu penting saat menganalisis budaya, yaitu : 1. Makna budaya dapat dianalisis dalam beberapa tahapan yang berbeda, seperti halnya penganalisisan pada tingkat makro dari masyarakat atau negara secara keseluruhan ataupuan budaya dari nilai-nilai bersama oleh sekelompok masyarakat tertentu secara mikro, seperti dilihat dari segmen masyarakat tertentu misalnya sekelompok orang dalam kelas sosisl atau grup referensi ,ataupun dalam lingkup keluarga. 2. Konsep makna umum atau yang dimiliki bersama sangat penting untuk memahami budaya. Makna budaya ( cultural meaning) adalah jika sebagian atau beberapa masyarakat dalam suatu kelompok sosial memiliki makna dasar yang sama. (misalnya, apakah arti ‘orang tua/ manula’? apakah makna ‘lingkungan yang aman’? bagaimana arti’bicara yang sopan’? dsb). 3. Makna budaya diciptakan oleh masyarakat melalui interaksi sosial mereka. Pembangunan makna budaya terlihat dalam tingkatan kelompok yang lebih kecil misalnya bagaimana mode busana yang disebut “ngetrend” pada mahasiswa sampai akhir tahun ini? Accessories apa yang sering mereka gunakan?Sedangkan di lingkungan makro makna itu dipengaruhi oleh institusi budaya seperti pemerintah, organisasi keagamaan, pendidikan, dan juga perusahaan semuanya dapat terlibat dalam pembangunan makna budaya. 4. Makna budaya terus melakukan gerakan ( dinamis ) dan dapat mengalami perubahan yang cepat, misalnya perilaku masyarakat yang dramatis oleh munculnya tipe ponsel (handphone ) Blackberry, yang dianggap mampu melakukan fungsi lebih dari sekedar ponsel tetapi mampu melakukan chating , facebook, email dsb. 5. Kelompok-kelompok sosial memiliki perbedaan dalam tingkat kebebasan memilih makna budaya tertentu, seperti di Amerika dan Eropa masyarakat lebih memiliki kesempatan untuk menciptakan identitas pribadi dan menggunakannya, sementara sebagian masyarakat lain di Cina, India dan Arab Saudi mungkin lebih terbatas dalam memiliki kebebasan memilih makna budaya tertentu. KANDUNGAN SUATU BUDAYA Kandungan utama budaya sering digunakan sebagai pendekatan oleh pemasar dalam menganalisis budaya untuk melakukan terobosan pemasaran. Pemasar biasanya berfokus pada nilai-nilai dominan dalam suatu masyarakat. Kandungan suatu budaya ( content of culture) adalah kepercayaan, sikap, tujuan, dan nilai-nilai yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat dalam suatu lingkungan yang menyangkut aspek-aspek lingkungan sosial ( ragam agama dan kepercayaan, ragam partai politik , dsb) dan fisik ( produk, peralatan , gedung dan bangunan dsb) dalam masyarakat tertentu. Tujuan dalam analisis budaya adalah untuk memahami kandungan makna dari sudut pandang konsumen yang menciptakan dan menggunakannya. Misalnya pengibaran bendera memiliki tanggapan rasa patriotisme dan semangat juang, diskon 50% adalah memiliki tanggapan “daya tarik” yang heboh, antri lebih dari 30 menit bagi sebagian orang Amerika membuat frustasi dan marah, namun di bagian masyarakat Indonesia merupakan hal yang biasa saja, sehingga ada slogan” budayakan antri……yang ada gambarnya bebek berbaris rapi. Seperti halnya makna berjabat tangan ketika menyapa menjadi simbol selamat datang dan persahabatan oleh sebagian besar masyarakat dunia, meskipun ada sebagian yang melakukannya dengan membungkukkan badan atau mencium. Perbedaan makna budaya bahkan dapat diamati dari lingkungan berbelanja apakah toko diskon yang konsumen bisa memilih sendiri atau toko spesial yang dilengkapi dengan pelayanan pribadi penuh dari pramuniaga dan fasilitas belanja yang mewah. Akhirnya strategi pemasaran juga memiliki makna yang dipercaya bersama, seperti reaksi masyarakat terhadap iklan. Masyarakat Amerika terbiasa mengungkap iklan dengan secara langsung dan terbuka, bahkan dianggap terlalu ‘fulgar’ atau emosional oleh sebagian masyarakat di negara lain. Atau promosi diskon dan penjualan murah, di sebagian masyarakat bisa dianggap positif tetapi bagian masyarakat lain bisa berbeda dan justru sering mendapat reaksi negatif karena adanya anggapan bahwa barang yang didiskon pasti tidak berkualitas dan barang sisa, cuci gudang atau barang yang tidak laku. Sehingga pemasar harus hati-hati menangkap makna budaya dari produk dan merek yang akan dipasarkan dengan melihat lingkungan budaya yang melekat pada target pasar yang akan dipilihnya. MENGUKUR KANDUNGAN BUDAYA Pemasar dapat menggunakan berbagai prosedur untuk mengukur kandungan budaya yaitu melalui analisis kandungan budaya, penelitian etnografis dan pengukuran nilai. Pendekatan yang umum dipakai adalah dengan penelitian konsumen melalui wawancara, survei, telepon bahkan fokus group). Analisis kandungan budaya dapat dilakukan dengan mengamati obyek material yang ada dalam kelompok sosial, misalnya komik yang beredar di kalangan anak-anak sering berisi tentang nilai-nilai persahabatan, nilai agama, bahkan ini dapat diamati selama periode waktu tertentu, seperti perubahan peran wanita yang bekerja dalam puluhan tahun terakhir sehingga iklan dapat disentuhkan dengan keberadaan mereka. Penelitian etnografis, yang melibatkan pengamatan ciri yang rinci yang bersumber dari antropologi untuk melihat tanggapan emosi, pengetahuan, dan perilaku dalam keseharian dalam masyarakat lingkungan tertentu. Misalnya bagaimana perilaku masyarakat pada pasar tradisional Jawa?Budaya tawar menawar yang dilakukan?Hal itu dapat diangkat sebagai tema dalam iklan produk tertentu. Pengukuran nilai cenderung dilakukan secara langsung untuk melihat nilai dominan, dengan alat penilaian tertentu seperti rangking nilai yang dominan dan menggunakan metode statistik tertentu. MITOS DAN RITUAL KEBUDAYAAN Setiap masyarakat memiliki serangkaian mitos yang mendefinisikan budayanya. Mitos adalah cerita yang berisi elemen simbolis yang mengekspresikan emosi dan cita-cita budaya. Misalnya mitos mengenai binatang yang mempunyai kekuatan ( Lion King ) atau binatang yang cerdik ( Kancil ) yang dimaksudkan sebagai jembatan antara kemanusiaan dan alam semesta. Ada mitos pewayangan yang dapat diangkat dalam membuat strategi penentuan merek suatu produk, seperti tokoh Bima dalam produk Jamu kuat “ Kuku Bima Ginseng”. Sehingga pemasar dituntut kreatif menggali mitos agar bisa digunakan sebagai sarana menyusun strategi pemasaran tertentu. Ritual kebudayaan merupakan kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan oleh kelompok masyarakat. Ritual Budaya sebagai urutan-urutan tindakan yang terstandarisasi yang secara periodik diulang, memberikan arti dan meliputi penggunaan simbol-simbol budaya ( Mowen, 1995). Ritual budaya bukan sekedar kebiasaan yang dilakukan seseorang, tetapi hal ini dilakukan dengan serius dan formal, yang memerlukan intensitas mendalam dari seseorang. Kebiasaan sering tidak serius, kadang tidak pasti dan berubah saat ada stimulus berbeda yang lebih menarik. Seringkali ritual budaya memerlukan benda-bendayang digunakan untuk proses ritual, dan inilah yang bisa dibuat oleh pengusaha menjadi peluang , seperti acara ulang tahun yang biasanya ada lilin, roti tart, balon, permen, sirup, dan lain-lain. Pesta perkawinan merupakan ritual budaya juga, sehingga dapat menjadi peluang untuk ‘wedding organizer’ dan persewaan gedung, serta peralatan dan perlengkapan pesta lainnya. Strategi iklan juga dapat dikaitkan dengan ritual budaya seperti pada tema-tema perkawinan yang menonjolkan hadiah ‘berlian’ untuk pengantin perempuan, dan produk sarung untuk ritual keagamaan dan ibadah. Simbol kebudayaan juga merupakan representasi tertentu dari budaya , secara umum apa yang dipakai dan dikonsumsi oleh seseorang akan mencerminkan budayanya. Perusahaan dapat menggunakan nilai-nilai simbolis untuk merek produknya , misalnya perusahaan otomotif Toyota memberi nama Kijang untuk kendaraan dengan penumpang keluarga, secara simbolis Kijang ‘ adalah binatang yang mempunyai kemampuan lari yang sangat cepat dan lincah”.Sementara perusahaan lain Mitsubishi menciptakan ‘Kuda’. Simbol juga dapat ditunjukkan dengan warna, seperti warna hitam mempunyai arti formal, biru sejuk, putih artinya suci, merah simbol berani dsb. Sehingga pemasar menggunakan warna sebagai dasar untuk menciptakan produk yang berkaitan dengan kebutuhan simbolis. BUDAYA POPULER VS BUDAYA LUHUR Budaya populer merupakan karakteristik budaya sangat banyak bahkan melintasi budaya tradisional (luhur) yang mengakar dalam masyarakat. Budaya populer adalah budaya yang menarik massa yang mempunyai karakteristik ; 1) masuk kedalam pengalaman dan nilai kebanyakan anggota masyarakat, 2) tidak memerlukan pengetahuan khusus untuk mmahaminya dan 3) dihasilkan karena mudahnya setiap orang mengakses pada nilai budaya populer. Sedangkan budaya luhur ( high culture) menghasilkan produk yang bernilai seni tinggi, karena proses pembuatannya semata-mata didasarkan pada nilai-nilai estetis (Lukisan, Batik, Patung, Keramik dsb) sedangkan budaya populer menghasilkan produk dengan keahlian dan ketrampilan yang dapat dibuat secara massal dengan formula yang baku ( cetakan pabrik ). Aliran musik alternatif juga menunjukkan budaya populer, juga budaya pakaian ketat yang marak dikenakan di kalangan remaja putri di Indonesia, begitupun rok mini yang ngetrend tahun 60 – 70-an sekarang sedang ngetrend lagi. BUDAYA DAN KONSUMSI Produk mempunyai fungsi, bentuk dan arti . Ketika konsumen membeli suatu produk mereka berharap produk tersebut menjalankan fungsi sesuai harapannya, dan konsumen terus membelinya hanya bila harapan mereka dapat dipenuhi dengan baik. Namun, bukan hanya fungsi yang menentukan keberhasilan produk . Produk juga harus memenuhi harapan tentang norma, misalnya persyaratan nutrisi dalam makanan, crispy (renyah) untuk makanan yang digoreng, makanan harus panas untuk ‘steak hot plate’ atau dingin untuk ‘ agar-agar pencuci mulut’.Seringkali produk juga didukung dengan bentuk tertentu untuk menekankan simbol fungsi seperti ‘ kristal biru’ pada detergen untuk pakaian menjadi lebih putih. Produk juga memberi simbol makna dalam masyarakat misal “ bayam” diasosiasikan dengan kekuatan dalam film Popeye atau makanan juga dapat disimbolkan sebagai hubungan keluarga yang erat sehingga resep turun temurun keluarga menjadi andalan dalam memasak, misal iklan Sasa atau Ajinomoto. Produk dapat menjadi simbol dalam masyarakat untuk menjadi ikon dalam ibadat agama. Budaya merupakan sesuatu yang perlu dipelajari, karena konsumen tidak dilahirkan spontan mengenai nilai atau norma kehidupan sosial mereka, tetapi mereka harus belajar tentang apa yang diterima dari keluarga dan teman-temannya. Anak menerima nilai dalam perilaku mereka dari orang tua , guru dan teman-teman di lingkungan mereka. Namun dengan kemajuan zaman yang sekarang ini banyak produk diarahkan pada kepraktisan, misal anak-anak sekarang lebih suka makanan siap saji seperti Chicken Nugget, Sossis, dan lain-lainnya karena kemudahan dalam terutama bagi wanita yang bekerja dan tidak memiliki waktu banyak untuk mengolah makanan. Kebudayaan juga mengimplikasikan sebuah cara hidup yang dipelajari dan diwariskan, misalnya anak yang dibesarkan dalam nilai budaya di Indonesia harus hormat pada orang yang lebih tua, makan sambil duduk dsb. Sedangkan di Amerika lebih berorientasi pada budaya yang mengacu pada nilai-nilai di Amerika seperti kepraktisan, individualisme, dsb. Budaya berkembang karena kita hidup bersama orang lain di masyarakat. Hidup dengan orang lain menimbulkan kebutuhan untuk menentukan perilaku apa saja yang dapat diterima semua anggota kelompok. Norma budaya dilandasi oleh nilai-nilai, keyakinan dan sikap yang dipegang oleh anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempunyai dampak dalam perilaku membeli, misalnya orang yang memperhatikan masalah kesehatan akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan yang merugikan kesehatannya. Nilai memberi arah pengembangan norma, proses yang dijalani dalam mempelajari nilai dan norma disebut ”sosialisasi atau enkulturasi”. Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, bila masyarakat cenderung sulit menerima hal-hal baru dalam masyarakat dengan mempertahankan budaya lama disebut Accultiration. Budaya pada gilirannya akan mempengaruhi pengembangan dalam implikasi pemasaran seperti perencanaan produk, promosi ,distribusi dan penetapan harga. Untuk mengembangkan strategi yang efektif pemasar perlu mengidentifikasi aspek-aspek penting kebudayaan dan memahami bagaimana mereka mempengaruhi konsumen. Sebagaimana strategi dalam penciptaan ragam produk , segmentasi pasar dan promosi yang dapat disesuaikan dengan budaya masyarakat. Beberapa perubahan pemasaran yag dapat mempengaruhi kebudayaan, seperti : 1. Tekanan pada kualitas 2. Peranan wanita yang berubah 3. Perubahan kehidupan keluarga 4. Sikap yang berubah terhadap kerja dan kesenangan 5. Waktu senggang yang meningkat 6. Pembelian secara impulsif 7. Hasrat akan kenyamanan sumber : http://buahilmu.wordpress.com/2011/05/18/pengaruh-budaya-dalam-perilaku-konsumen/

Senin, 03 Desember 2012

Tugas matakuliah Metode Riset

Nama : Herru Hermawan. NPM : 13210273. Kelas : 3EA17. BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 5.1. Analisis Volume Penjualan Salah satu analisis terpenting yang dilakukan perusahaan adalah analisis volume penjualan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui maju mundurnya perusahaan tersebut dalam memasarkan produk yang dihasilkan. Dengan analisis tersebut dapat terungkap apakah penjualan produk perusahaan mengalami kenaikan atau penurunan. Volume penjualan merupakan salah satu parameter berhasil tidaknya suatu perusahaan dalam menetapkan dan mengambil kebijakan yang dapat mempengaruhi konsumen dalam memiliki produk yang dihasilkan sehingga berpengaruh terhadap peningkatan volume penjualan perusahaan. PT. Jujur Jaya Sakti sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dibidang otomotif juga dihadapkan pada beratnya persaingan dengan sejumlah perusahaan otomotif lain dalam memasarkan produk berupa mobil yang ramah lingkungan, ekonomis dan terjangkau. Kaitannya dengan penelitian ini, penulis mencoba menganalisis perkembangan volume penjualan perusahaan PT. Jujur Jaya Sakti selama tahun 2005-2011. Adapun data yang diperoleh merupakan data jumlah unit mobil terjual dan nilai penjualan mobil selama tahun 2005-2011. Dengan melihat data tersebut dapat terungkap, apakah volume penjualan meningkat atau mengalami penurunan. Tabel volume penjualan PT. Jujur Jaya Sakti Periode 2005-2011 Tahun Penjualan (unit) Nilai Penjualan (Rp) Kenaikan (%) 2005 1007 109.689.595.250 - 2006 1330 135.504.650.000 23,53 2007 1450 149.024.800.000 9,98 2008 1640 166.478.850.000 11,71 2009 1710 172.722.290.000 3,75 2010 1750 175.797.060.000 1,78 2011 2013 215.924.400.000 22,83 Total 10900 1.125.141.645.250 73,58 Rata-rata 1557 160.734.520.750 10,51

Tugas matakuliah Metode Riset

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4.1. Sejarah Singkat Perusahaan PT. Jujur Jaya Sakti didirikan pada awal tahun 1972 dengan nama UD. Jujur Jaya yang bergerak pada bidang otomotof yaitu jual beli sepeda motor Honda hingga pada tahun 1980. Pada tahun 1980, UD. Jujur Jaya berganti nama menjadi PT. Jujur Jaya dan beralih menjadi jual beli Mobil Daihatsu dan menjadi dealer resmi Daihatsu. Pergantian nama tersebut disebabkan karena peluang bisnis yang bergerak dibidang jual beli mobil lebih menguntungkan dari pada berbisnis dibidang jual beli sepeda motor. Seiring dengan perkembangan perusahaan, pada tahun 1996 PT. Jujur Jaya berganti nama menjadi PT. Taruna Sakti Motor. Pergantian nama tersebut diakibatkan oleh adanya pertambahan pemegang saham yang baru, yang awalnya saham tersebut hanya dipegang oleh Bapak Sudirjo Aliman sendiri, sehingga pemegang saham terbagi menjadi dua orang yaitu, Bapak Hardianto Herlim yaitu saudara kandung dari Bapak Sudirjo Aliman dengan Bapak Sudirjo Aliman sendiri sampai dengan pada tahun 2007 Bapak Hardianto Herlim memisahkan diri dikarenakan ingin membangun perusahaan sendiri. Sehingga Bapak Sudirjo Aliman memberikan kuasa penuh kepada puteranya yaitu Bapaj Jhonny Aliman untuk memimpin perusahaan dan juga sebagai komisaris sampai saat ini, dan saat ini telah membangun showroom baru yang berlokasi tepat disamping kantor lama serta bengkel resmi PT. Jujur Jaya Sakti. 4.2. Struktur Organisasi Untuk dapat menjamin kelancaran kerja suatu perusahaan, mutlak diperlukan adanya pembagian tugas, tanggung jawab dan wewenang secara jelas di dalam perusahaan, kesimpang siuran dalam melaksanakan pekerjaan, tanggung jawab dan wewenang masing-masing bagian dapat diatasi melalui struktur dapat dilaksanakan secara efektif terarah dan terawasi. Untuk memenuhi syarat bagi pengawasan yang baik hendaklah dalam struktur organisasi terdapat pemisah fungsi-fungsi yang diharapkan dapat mencegah timbulnya kecurangan dalam perusahaan yang dilakukan secara tepat, akan menetapkan tanggung jawab kedalam bagian-bagian tersebut. Susunan personalia PT. Jujur Jaya Sakti di Makassar sesuai dengan struktur organisasi pada skema I, sebagai berikut: 1. Komisaris Utama 2. Kepala Cabang 3. Sekretaris / Manager Keuangan / Kasir 4. Supervisor 5. Kepala Bengkel 6. Marketing / Sales Counter 4.3. Uraian Tugas Adapun pembagian tugas dan susunan personalia PT. Jujur Jaya Sakti di Makassar sesuai dengan struktur organisasi skema I di atas adalah sebagai berikut: 1. Komisaris Utama a. Mengkoordinir berbagai kegiatan perusahaan ke arah pencapaian tujuan perusahaan. b. Meningkatkan kebijakan-kebijakan yang berorientasi kepada peningkatan atau pengembangan usaha perusahaan. c. Memotivasi karyawan, memperhatikan kesejahteraan dan keselamatan kerja. d. Bertanggung jawab atas segala kegiatan perusahaan baik intern maupun ekstern. 2. Kepala Cabang a. Membantu direktur utama dalam hal membuat program kerja perusahaan. b. Membuat perencanaan yang prospektif dan inovatif. c. Membantu direktur utama dalam kegiatan pengawasan/audit. d. Membuat perencanaan administrasi dan keuangan secara efektif dan efisien. e. Bertanggung jawab kepada direktur utama atas segala tugas yang dibebankan kepadanya. 3. Sekretaris/Manager Keuangan/Kasir a. Mengatur dan mengagendakan kegiatan kerja direktur utama secara efektif. b. Menjalankan kegiatan administrasi dan surat menyurat. c. Mengagendakan arsip-arsip perusahaan secara teratur dan komplit. d. Mengkoordinir berbagai kegiatan keuangan perusahaan. e. Membuat perencanaan sumber dan pengunaan keuangan secara efektif dan efeisien dengan tujuan mengoptimalkan keuntungan. f. Menerima uang hasil penjualan dari sales lalu setor ke rekening bank perusahaan. g. Melakukan kegiatan penarikan dan penagihan dana yang berupa piutang perusahaan. h. Membuat laporan pajak dan melakukan sesuai dengan kewajiban perusahaan. i. Bertanggung jawab atas segala kegiatan keuangan kepada direktur utama dan kepala cabang. 4. Supervisor a. Mengkoordinir tenaga sales dan melaksanakan kegiatan penjualan. b. Memotivasi tenaga sales, memperluas segmentasi pasar dan menganalisa kebutuhan pasar untuk meningkatkan volume penjualan. c. Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan kelengkapan surat-surat kendaraan bermotor. d. Membuat program penjualan yang berorientasi pada persaingan pasar serta penguasaan pangsa pasar. e. Membantu kepala cabang dalam perekrutan karyawan baru. f. Bertanggung jawab kepada kepala cabang atas segala kegiatan penjualan kendaraan bermotor secara periodik. 5. Kepala Bengkel a. Melaksanakan kegiatan service kendaraan yang mengutamakan kualitas dan kepuasan konsumen. b. Menyediakan fasilitas dan sarana yang bisa menjamin kepuasan konsumen. c. Menyediakan dan menjual sparepart kendaraan bermotor yang di pasarkan perusahaan serta menjaga persediaan agar setiap saat dapat memenuhi permintaan konsumen. d. Bertanggung jawab kepada kepala cabang atas segala kegiatan pelayanan serta penjualan. 6. Marketing/Sales Counter a. Melaksanakan kegiatan penjualan. b. Melakukan stok barang. c. Mengecek kondisi barang dari ekspedisi. d. Memperluas segmentasi pasar dan menganalisa kebutuhan pasar untuk meningkatkan volume penjualan. e. Bertanggung jawab kepada supervisor atas segala kegiatan penjualan kendaraan bermotor secara periodik.

Tugas matakuliah Metode Riset

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data 3.1.1. Jenis Data Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu: 1. Data Kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan berupa data yang dapat dihitung atau angka yang diperoleh dari dokumen atau laporan-laporan, misalnya data volume penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar. 2. Data Kualitatif, yaitu data yang berbentuk informasi merupakan interprestasi dari hasil wawancara baik secara lisan maupun tulisan. 3.1.2. Sumber Data 1. Data Primer yaitu data yang diperoleh dari keterangan langsung yang diberikan oleh sumber pertama dari hasil pengamatan langsung maupun wawancara dengan pihak yang berkaitan dengan masalah penelitian. 2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari pihak ketiga berupa informasi tulisan dan bahan dokumentasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti serta buku-buku referensi lainnya yang diperoleh melalui Library Research. 3.2. Metode Pengumpulan Data 1. Penelitian lapangan Yaitu penulis mengumpulkan data dengan cara terjun langsung ke lapangan melalui pengamatan yang dilakukan pada perusahaan yang diteliti (observasi). 2. Penelitian kepustakaan Yaitu penelitian yang diperoleh dengan cara membaca dan mempelajari literatur-literatur, dokumentasi yang terkait dengan objek dan sasaran yang diteliti. 3.3. Metode Analisis Dari hasil penelitian yang dikumpulakan maka selanjutnya akan dapat disakija metode analisis sebagai berikut: 1. Analisis Deskriptif yaitu suatu analisis untuk menguraikan variabel bauran promosi terhadap volume penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar. 2. Analisis Regresi Berganda yakni suatu analisis untuk melihat sejauh mana pengaruh variabel bauran promosi terhadap peningkatan volume penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar. Analisis regresi berganda menggunakan rumus persamaan seperti yang dikutip dalam Sugiyono (2005:261), yakni: Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e Dimana: Y = Volume Penjualan a = Konstanta b1 = Koefisien regresi dari variabel X1 X1 = Penjualan pribadi b2 = Koefisien regresi dari variabel X2 X2 = Promosi penjualan b3 = Koefisien regresi dari variabel X3 X3 = Publisitas b4 = Koefisien regresi dari variabel X4 X4 = Periklanan b5 = Koefisien regresi dari variabel X5 X5 = Direct Marketing e = Error Data yang diperoleh nantinya akan diolah menggunakan program olah data komputer yaitu SPSS 13.0 untuk menghasilkan nilai koefisien determinasi yang lebih akurat. 3. Uji Hipotesis 1. Uji F Menurut Sugiyono (2005:266) uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama variabel independen terhadap variabel dependen. 1. Jika F hitung < F tabel, maka independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 2. Jika F hitung > F tabel, maka variabel independen mempunyai hubungan yang signifikan terhadap variabel dependen. 2. Uji t Menurut Sugiyono (2005:264), uji t digunakan untuk menguji sendiri-sendiri secara signifikan hubungan antara variabel independen (variabel X) dengan variabel dependen (variabel Y). Uji t dirumuskan sebagai berikut: dimana: t = observasi r = koefisien n = banyaknya observasi dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0.05) syaratnya: 1. Jika thitung > ttabel, maka variabel independen mempunyai keeratan hubungan yang signifikan terhadap variabel dependen. 2. Jika thitung < ttabel, maka variabel independen tidak mempunyai keeratan hubungan yang signifikan terhadap variabel dependen. 3.4. Definisi Operasional Definisi operasional variabel yang diteliti tampak seperti dibawah ini: 1. Variabel dependen (Y) Variabel dependen (Y) dalam penilitian ini adalah volume penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar. 2. Variabel independen (X) Variabel independen (X) dalam penelitian ini adalah lima komponen dari bauran promosi yakni periklanan, penjualan pribadi, promosi penjualan, publisitas dan pemasaran langsung digunakan oleh PT. Jujur Jaya Sakti Makassar selama tahun (xxx) dalam mempengaruhi peningkatan volume penjualan. Variabel independen terdiri atas: 1. Periklanan (X1) adalah salah satu cara yang dilakukan PT. Jujur Jaya Sakti Makassar dalam memperkenalkan produk kepada khalayak ramai melalui media cetak dan elektronik. 2. Penjualan Pribadi (X2) adalah salah satu teknik yang digunakan PT. Jujur Jaya Sakti Makassar untuk bertemu langsung dengan calon pembeli. 3. Promosi penjualan (X3) adalah salah satu teknik penjualan yang dilakukan oleh PT. Jujur Jaya Sakti Makassar dalam memperkenalkannya produknya secara langsung. 4. Publisitas (X4) adalah promosi yang biasanya dilakukan oleh praktisi untuk membujuk, mempengaruhi, mengubah, menarik emosi konsumen agar membeli produk tersebut. 5. Pemasaran Langsung (X5) adalah salah satu teknik yang digunakan PT. Jujur Jaya Sakti dalam memperkenalkan poduk melalui media komunikasi.

Tugas matakuliah Metode Riset

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Pengertian Pemasaran Kemajuan zaman yang membawa masalah-masalah dan kesempatan-kesempatan baru telah menjadi sebab menariknya pengetahuan pemasaran bagi perusahaan-perusahaan, lembaga-lembaga dan bangsa. Kegiatan pemasaran telah berkembang dari kegiatan distribusi dan penjualan, menjadi suatu falsafah untuk menghubungkan tiap perusahaan dengan pasarnya. Apabila menyarankan berbicara mengenai pemasaran, umumnya yang dimaksudkan adalah permintaan atau pembelian dan harga. Sedangkan apabila seorang tenaga penjualan atau manajer toko serba ada, pemasaran di artikan sebagai kegiatan pengeceran (retailing) atau penjajakan (merchandising). Dewasa ini pemasaran sudah mengarah pada bagaimana memberikan kepuasan konsumen dari pemenuhan keinginan dan kebutuhan tadi, serta bagaimana konsumen itu menjadi langganan bagi produsen. Pemasaran merupakan bagian dari manajemen yang mengarah kepada kegiatan komersial produsen teknik-teknik pemasaran moderen. Mempunyai tujuan mencapai penjualan barang dan jasa secara efektif dan efisien dengan melihat ke masa depan, menemukan konsumen dengan jalan memenuhi kebutuhannya, maka dapatlah dikatakan bahwa pemasaran dimulai dari pola berpikir untuk mendapatkan konsumen sebagai titik produsen. Jadi pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan pokok yang dilakukan oleh para produsen dalam mempertahankan kontiunitas usahanya untuk mendapatkan laba. Berhasil tidaknya suatu usaha, tergantung keahlian mereka dalam pemasaran, produksi, keuangan, maupun bidang lain, serta pada kemampuan ptodusen untuk mengkomunikasikan fungsi-fungsi tersebut agar organisasi usaha dapat berjalan lancar. Pembahasan menyangkut pemasaran tidak terlepas dari pengertian pemasaran yang dikemukakan oleh para ahli, dalam mengemukakan pendapat berbeda-berbeda sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing dalam melihat aspek tesebut. Namun demikian apabila kita mencoba lebih teliti melihat satu persatu definisi dari para ahli tersebut hakikatnya mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu dengan cara bagaimana barang dan jasa yang telah dihasilkan oleh para produsen dapat diminati oleh konsumen, semapai ke tangan konsumen pada waktu yang tepat, jumlah yang tepat, serta harga yang layak, dan sang produsen dapat mempertahankan konsumen tersebut. Untuk lebih jelasnya berikut ini dikemukakan berbagai batasan pengertian dari pemasaran oleh para ahli di bidang pemasaran, antara lain : Menurut Philip Kotler (2007:7), pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk serta nilai dengan pihak lain. Dari pengertian ini, pemasaran menurut Philip Kotler merupakan suatu proses penukaran produk atau perpindahan hak milik, dalam hal ini adalah pertukaran benda-benda yang benilai bagi manusia berupa barang dan jasa serta uang untuk kelangsungan hidupnya. Sedangkan menurut William J. Stanton yang dikutip dalam buku Swastha dan Irawan (2008:5), pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentuka harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial. Jadi, kita meninjau pemasaran sebagai suatu sistem dari kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan, ditujukan untuk merencanakan, menentukan barang, mempromosikan, mendistribusikan barang dan jasa kepada pembeli. Menurut Jeff Madura (2001:83), pemasaran dapat didefinisikan secara luas sebagai tindakan berbagai perusahaan untuk merencanakan dan melaksanakan rancangan produk, penentuan harga, distribusi dan promosi. Persaingan yang semakin tajam mendorong perusahaan untuk bertahan dalam pasar dan merebut pangsa pasar sehingga masing-masing perusahaan berusaha menciptakan suatu produk yang mampu mendorong brand awareness masyarakat terhadap produk tersebut serta mencapai brand positioning yang baik di benak masyarakat melalui proses pemasaran mulai dari penetapan produk sampai pelaksanaan kegiatan promosi. Dari pengertian pemasaran yang dikutip maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Pemasaran adalah suatu proses pertukaran barang dan jasa dari produsen ke konsumen, sehingga melalui pertukaran tersebut kebutuhan dari individu atau kelompok masyarakat dapat terpenuhi. 2. Dalam usaha-usaha penyaluran barang dan jasa dari produsen ke konsumen harus diupayakan untuk memperoleh upaya yang layak dan menjamin kontinuitas produsen dengan melalui pemuasan kebutuhan dan keinginan konsumen atau pemakai potensial. 3. Semua kegiatan yang diharapkan agar memperlancar pendistribusian barang dan jasa dari produsen ke konsumen agar dapat menciptakan permintaan yang efektif. 2.1.2. Pengertian Marketing Mix (Bauran Pemasaran) Tujuan perusahaan adalah memuaskan konsumen serta mencapai target pasar yang ingin dicapai. Seiring dengan tujuan tersebut, perusahaan juga menginginkan tercapainya permintaan sebanyak-banyaknya agar hasil penjualan yang di harapkan dapat tercapai. Akan tetapi timbul masalah yakni bagaimana cara untuk dapat mempengaruhi pembeli agar membeli produk yang ditawarkan. Philip Kotler (2003:24) dalam bukunya mengatakan, Marketing Mix adalah serangkaian alat pemasaran taktis yang dapat di kendalikan produk, harga, tempat, dan promosi yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan tanggapan yang diinginkan perusahaan dalam pasar sasaran. Marketing Mix adalah segala sesuatu hal yang dapat perusahaan lakukan untuk mempengaruhi permintaan atas produknya. Guna mencapai tujuan pasar yang telah di targetkan maka perusahaan harus menggunakan variabel-variabel pemasaran yang dapat dikendalikan. Gambaran mengenai marketing mix diatas serta variabel-variabel mana yang termaksud dalam controlable. Philip Kotler dan Gary Amstrong (2004:320) mengemukakan marketing mix terbagi atas empat variabel sebagai berikut: 1. Produk Di dalam kondisi persaingan, sangatlah berbahaya bagi sebuah perusahaan bila hanya mengandalkan produk tanpa usaha untuk mengembangkannya. Oleh karena itu di dalam mempertahankan dan meningkatkan penjualan dan market share perlu mengadakan penyempurnaan dan pengembangan produk yang di hasilkan lebih baik, sehingga dapat memberikan daya guna, daya pemuas, serta daya tarik yang lebih besar. Strategi produk dalam hal ini adalah menetapkan cara dan menyediakan produk yang lebih tepat bagi pasar yang dituju, sehingga dapat memuaskan konsumen dan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang, melalui peningkatan penjualan dan peningkatan marker sharenya. Didalam produk terkandung fungsi produk dan faktor lain yang diharapkan oleh konsumen yang sering dinyatakan dengan produk plus (pelayanan). Faktor-faktor yang terkandung dalam suatu produk adalah mutu/kualitas, penampilan (features), pilihan yang ada (options), gaya (style), merek (brand lines), macam produk (product item), jaminan (guaranties), dan pelayanan (services). Dalam marketing mix, strategi produk merupakan unsur penting karena dapat mempengaruhi strategi pemasaran lainnya. Pemilihan jenis produk yang akan di hasilkan dan di pasarkan akan menentukan kegiatan promosi yang dibutuhkan serta penentuan harga serta cara penyalurannya. Tujuan utama strategi produk adalah untuk mencapai sasaran pasar yang dituju guna meningkatkan kemampuan bersaing atau mengatasi persaingan. Oleh karena itu strategi produk merupakan strategi pemasaran, sehingga gagasan atau ide untuk melakukan harus datang dati bidang pemasaran. 2. Price (harga) Harga merupakan satu-satunya unsur marketig mix yang menghasilkan penerimaan penjualan, sedangkan unsur lainnya merupakan unsur biasa saja. Meskipun penetapan harga merupakan persoalan yang penting, namun masih banyak perusahaan yang kurang mampu menangani permasalahan penetapan harga yang dapat mempengaruhi penerimaan perusahaan, sebab harga dapat mempengaruhi tingkat penjualan yang mana berdampak pada keuntungan serta market share yang dicapai oleh perusahaan. Penetapan harga akan menjadi sangat penting terutama pada keadaan persaingan yang semakin tajam dan perkembangan permintaan. Persaingan yang semakin tajam dewasa ini sangat terasa dalam pasar pembeli (buyer market) peranan harga sangat penting terutama untuk menjaga dan meningkatkan posisi perusahaan di pasar yang tercermin dalam target pasar perusahaan. Dengan kata lain, penetapan harga mempengaruhi kemampuan bersaing perusahaan dan kemampuan mengenai konsumen. Dalam menetapkan harga suatu produk perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya baik langsung maupun tidak langsung. Faktor yang mempengaruhi secara langsung misalnya harga bahan baku, biaya produksi, biaya pemasaran serta adanya peraturan pemerintah. Faktor tidak langsung misalnya harga produk sejenis yang dijual oleh pesaing lain, pengaruh harga terhadap hubungan antara produk subtitusi dan produk komplementer, diskon untuk para penyalur dam konsumen. Adapun tujuan dari penetapan harga tersebut yakni: 1. Memperoleh laba yang maksimum. 2. Meningkatkan market sharenya. 3. Memerah pasar (market skimming). 4. Memperoleh keuntungan yang ditargetkan. 5. Mempromosikan produk 3. Distribusi Distribusi merupakan kegiatan penyampaian produk dari produsen ke konsumen pada waktu yang tepat. Oleh karena itu distribusi merupakan salah satu kebijakan pemasaran yang mencakup penentuan saluran pemasaran (marketing channels) dan distribusi fisik (physical distribution). Bagaimanapun bagusnya suatu produk baik dari segi kualitas, model, serta harga yang terjangkau, tidak akan berarti sama sekali apabila konsumen sama sekali tidak mengetahui tentang produk tersebut, serta tidak mengetahui dimana bisa mendapatkan informasi mengenai produk tersebut. Oleh karena itu diperlukan lembaga-lembaga perantara untuk menghubungkan perusahaan dengan konsumen. Dengan lembaga-lembaga tersebut akan terbentuk saluran distribusi. 4. Promosi Suatu produk bagaimanapun bermanfaatnya jika tidak dikenal konsumen maka produk tersebut tidak akan diketahui dan bermanfaat bagi konsumen. Oleh karena itu perusahaan harus melakukan cara agar konsumen dapat mengetahui produk perusahaan tersebut. Serta berusaha mempengaruhi konsumen untuk dapat menciptakan permintaan atas produk tersebut, kemudian dipelihara dan dikembangkan. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan melakukan rangkaian kegiatan promosi sebagai salah satu acuan pemasaran. Kegiatan promosi dilakukan sejalan dengan rencana pemasaran secara keseluruhan serta direncanakan akan diarahkan dan dikendalikan dengan baik, diharapkan akan dapat berperan secara baik dalam meningkatkan penjualan dan market share. Untuk memahami lebih jauh tentang promosi beberapa ahli pemasaran mendefinisikan promosi sebagai salah satu bagian terpenting dalam dan sangat menentukan arah tujuan perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diketahui bentuk-bentuk promosi yang efektif serta terkait dengan komunikasi yang baik di antara bentuk-bentuk promosi yang ada yang kebih dikenal promotion mix. Menurut Philip Kotler (2005:264) promotion mix terdiri dari atas 5 perangkat utama yakni: 1. Advertising Merupakan semua penyajian non personal, promosi ide-ide, promosi produ atau jasa yang dilakukan sponsor tertentu yang dibayar. 2. Sales Promotion Berupa insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa. 3. Personal Selling Interaksi langsung dengan calon pembeli atau lebih untuk melakukan presentasi, menjawab langsung dan menerima pesanan. 4. Publicity Berbagai program untuk mempromosikan dan atau melindungi citra perusahaan atau produk individualnya. 5. Direct Marketing Penggunaan surat, telepon, faksimil, email dan alat penghubung nonpersonal lain untuk berkomunikasi secara dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan tertentu dan calon pelanggan. 2.1.3. Pengertian Promosi Promosi merupakan bagian dari kegiatan pemasaran dan dikenal sebagai unsur dari bauran pemasaran (marketing mix). Promosi sangat diperlukan oleh perusahaan karena disatu pihak meyakinkan konsumen terhadap produk yang ditawarkan sedangkan, dipihak lain sangat menentukan suksesnya perusahaan menghadapi persaingan di pasar. Disamping itu kegiatan promosi sebagai sarana komunikasi antara produsen dan konsumen untuk memperkenalkan produk, baik jenis, warna, bentuk dan harga, maupun kualitas produk yang ditawarkan atau yang dihasilkan perusahaan. Promosi juga adalah informasi kepada tindakan penukaran dan pembelian atau alat informasi satu arah bagi seseorang. Untuk memahami lebih jauh lagi tentang promosi, Swastha dan Irawan (2008:349) mengatakan, promosi sebagai arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan permintaan. Dan Simamora (2003:285) mengemukakan definisi promosi adalah segala bentuk komunikasi yang digunakan untuk menginformasikan (inform), membujuk (persuade), atau mengingatkan orang-orang tentang produk yang dihasilkan organisasi, individu ataupun rumah tangga. Dapat dikatakan bahwa promosi merupakan pertukaran informasi dua arah antara pihak-pihak yang terlibat. Bagi perusahaan yang menghasilkan produk atau jasa maka interaksi yang terjadi antara perusahaan dengan konsumen hanya terwujud melalui proses komunikasi. 2.1.4. Fungsi dan Tujuan Promosi 1. Fungsi Promosi Pada dasarnya merupakan bentuk komunikasi pemasaran dimana aktivitas pemasarannya berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi, membujuk, dan meningkatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produk agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yangditawarkan perusahaan, jadi sebelum melaksanakan kegiatan promosi para komunikator pemasaran perlu mengetahui bagaimana proses komunikasi itu berlangsung. Dua elemen mewakili bagian utama dalam sebuah komunikasi yaitu: pengiriman dan penerimaan. Dua lainnya mewakili sebagai perangkat komunikasi utama yaitu pesan dan media. Empat lainnya mewakili fungsi komunikasi utama yaitu penyampaian, penerimaan, respon dan umpan balik. Elemen terakhir adalah gangguan dalam sistem. Elemen ini didefinisikan sebagai berikut: a. Pengiriman: Pihak yang mengirimkan berita/pesan pada pihak lain b. Penyusunan Kode: Proses penempatan pemikiran ke dalam bentuk-bentuk simbol c. Pesan: Sekumpulan simbol yang dikirim oleh pengirim pesan d. Media: Saluran komunikasi pesan dari pengirim ke penerima e. Pemacahan Kode: Proses yang dilalui oleh penerima dalam memberikan makna atas simbol-simbol, yang disampaikan dalam bahasa sandi oleh pengirim f. Penerima: Pihak penerima pesan g. Tanggapan: Reaksi dari penerima pesan atas pesan/berita tersebut h. Umpan Balik: Respon penerima pesan kepada si pengirim pesan i. Gangguan: gangguan atau distorsi yang tidak terencana selama proses komunikasi, yang membuat penerima menerima pesan yang berbeda dengan pesan yang pengirim sampaikan. Ini menjelaskan faktor utama dalam proses komunikasi yang efektif. Pengirim mesti mengetahui apa yang pendengar ingin capai dan respon apa yang mereka inginkan. Pengirim ini menyimbolkan pesan dengan sedemikian rupas sehingga dapat memperkirakan bagaimana sasaran pendengar bisa mengartikan pesan tersebut. Sumber harus menyampaikan pesan melalui media yang tepat agar dapat mencapai sasaran pendengar, selain itu pengirim harus mengembangkan saluran umpan balik untuk mengetahui respon dari penerima. Karena inti dari promosi adalah komunikasi, maka diperlukan proses komunikasi untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi itu bekerja. Komunikasi dapat dilihat sebagai transmisi informasi berupa pengiriman dan penerimaan pesan oleh komunikator kepada komunikan. Promosi mempunyai tiga fungsi utama yakni: a. Menciptakan perhatian konsumen, perhatian ini harus diperoleh karena merupakan titik awal proses pengambilan keputusan-keputusan pembelian barang dan jasa. b. Menumbuhkan minat pada diri konsumen, sehungga memberikan rasa tertarik atas barang atau jasa yang ditawarkan. c. Mengembangkan rasa ingin memiliki produk tersebut, sehingga konsumen semakin dekat untuk membeli suatu produk. 2. Tujuan Promosi Perusahaan melakukan kegiatan usahanya dengan tujuan memperoleh hasil yang maksimal. Dan untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan suatu car untuk mencapainya. Seiring kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi yang semakin pesat, salah satu upaya untuk meningkatkan volume penjualan adalah dengan melakukan promosi. Setiap perusahaan bebas memilih cara promosi yang cocok untuk produk yang ditawarkan dimana besar kecilnya suatu promosi tergantung dari besarnya dana promosi, sifat promosi, sifat pasar, serta jenis produk yang akan dipromosikan. Berikut dijelaskan beberapa tujuan promosi yakni: a. Memodifikasi tingkah laku Merupakan kegiatan perusahaan dalam promosi, dimana perusahaan berusaha menciptakan kesan baik terhadap dirinya atau mendorong pembelian barang dan jasa perusahaan melalui promosi. Dimana dulunya konsumen tidak terlalu menyukai produk perusahaan tersebut, maka dengan bantuan promosi akan merubah tingkah laku konsumen. b. Memberi tahu Kegiatan promosi yang ditujukan untuk memberitahu pasar yang dituju tentang penawaran perusahaan, sebab tanpa diketahui oleh konsumen dan masyarakat luas meskipun produk yang dihasilkan berkualitas tinggi dan terjangkau oleh konsumen tidak akan berarti banyak, sebab tidak diketahui oleh konsumen atau masyarakat luas. c. Membujuk (Persuasif) Hal ini sebenarnya kurang disenangi oleh sebagian masyarakat, akan tetapi dalam kenyataan sekarang justru banyak promosi yang bersifat persuasif. Promosi semacam ini untuk mendorong para konsumen untuk membeli barang yang dipromosikan. d. Mengingatkan Promosi yang bersift mengingatkan ini kegiatannya dilakukan untuk mempertahankan merek produk di hati masyarakat. Sifat promosi ini dilakukan pada tahap kedewasaan dalam daur hidup produk, hal ini bertujuan untuk mempertahankan merek produk di hati masyarakat sekaligus mempertahankan pembeli yang ada. 2.1.5. Promotion Mix (Bauran Promosi) Perusahaan dalam hal mengungkapkan kebijaksanaan promosi perlu memperhatikan kegiatan-kegiatan promosi yang perlu dipertimbangkan agar diperoleh suatu kebijaksanaan yang objektif. Menurut William J. Stanton yang dikutip Basu Swastha dan Irawan (2008:349) dalam bukunya Manajemen Pemasaran Modern mengemukakan bahwa, Promotional Mix adalah kombinasi strategi yang paling baik dari variabel-variabel periklanan, personal selling, dan alat promosi yang lain, yang semuanya direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan. Kita dapat melihat bahwa definisi tersebut tidak menyebutkan secara jelas beberapa variabel promotional mix selain periklanan dan penjualan pribadi, pada pokoknya bauran promosi (promotional mix) terdiri dari empat variabel, yaitu periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), penjualan pribadi (personal selling), publisitas dan pemasaran langsung (direct marketing). 1. Periklanan Menurut Philip Kotler (2005:277), bahwa iklan adalah segala bentuk presentasi non-pribadi dan promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor yang tertentu yang harus dibayar. Sedangkan yang dimaksud dengan periklanan adalah seluruh proses yang meliputi penyampaian, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan iklan. Iklan memiliki empat fungsi utama yaitu, menginformasikan khalayak mengenai seluk beluk (informative), mempengaruhi khalayak untuk membeli (persuading), dan menyegarkan informasi yang telah diterima khalayak (reminding), serta menciptakan suasana yang menyenangkan sewaktu khalayak menerima dan mencerna informasi (entertainmnent). Suatu iklan memiliki sifat-sifat berikut: 1. Public Persentation Iklan memungkinkan setiap orang menerima pesan yang sama tentang produk yang diiklankan. 2. Persuasiveness Pesan iklan yang sama dapat diulang-ulang untuk memantapkan penerimaan informasi. 2. Promosi Penjualan Promosi penjualan merupakan kegiatan komunikasi yang bukan iklan, publisitas, atau penjualan pribadi. Tujuannya adalah menarik konsumen untuk membeli, yaitu dengan membuat pajangan di toko-toko, pameran, dan demonstrasi dengan menggunakan alat-alat penjualan seperti poster, selebaran, dan gambar tempel. Biasanya kegiatan ini juga dilakukan bersama-sama dengan kegiatan promosi lainnya, biayanya relatif lebih murah dibandingkan periklanan dan penjualan pribadi. Selain itu promosi penjualan juga lebih fleksibel karena dapat dilakukan setiap saat dengan biaya tersedia dan dimana saja, sedangkan penjualan yang terjadi sifatnya tidak kontiniu dan berjangka pendek. 3. Penjualan Pribadi Basu Swastha dan Irawan (2008:350) mengemukakan definisi penjualan pribadi dalam bukunya Manajemen Pemasaran Modern sebagai berikut penjualan pribadi adalah presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan satu calon pembeli atau lebih yang ditujukan untuk menciptakan penjualan. Sifat-sifat penjualan pribadi antara lain: 1. Personal confrontation, yaitu adanya hubungan yang hidup langsung dan interaktif antara dua orang atau lebih. 2. Cultivation, yaitu sifat yang memungkinkan berkembangnya segala macam hubungan, mulai dari sekedar hubungan jual beli sampai dengan suatu hubungan yang lebih akrab. 3. Response, yaitu situasi yang seolah-olah mengharuskan pelanggan untuk mendengar, memperhatikan, dan menanggapi. Oleh karena sifat-sifat tersebut maka metode ini mempunyai kelebihan antara lain operasinya lebih fleksibel karena penjualan dapat mengamati reaksi pelanggan dan menyesuaikan pendekatannya, usaha yang sia-sia dapat diminimalkan pelanggan yang berminat biasanya langsung membeli dan penjual dapat membina hubungan jangka panjang dengan pelanggannya. Namun karena menggunakan armada penjualan yang relatif lebih besar, maka metode lain biasanya mahal. Di samping itu, spesifikasi penjualan yang diinginkan perusahaan makin sulit dicari. Meskipun demikian, penjualan pribadi tetaplah penting dan biasanya dipakai untuk mendukung metode promosi lainnya. Aktivitas penjualan pribadi memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai berikut: 1. Prospecting, yaitu mencari dan menjalin hubungan dengan mereka. 2. Targeting, yaitu mengalokasikan kelangkaan waktu penjual dengan pembeli. 3. Communicating, yaitu memberi informasi mengenai produk perusahaan kepada pelanggan. 4. Selling, yaitu mendekati, mempresentasikan, mendemontrasikan, mengatasi penolakan, serta produk kepada pelanggan. 5. Servicing, yaitu memberikan berbagai jasa dan pelayanan kepada pelanggan. 6. Information gathering, yaitu melakukan riset dan intelijen pasar. 7. Allocating, yaitu menentukan pelanggan yang akan dituju. Penjual untuk melakukan penjualan pribadi harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: 1. Salesmanship, yaitu penjual harus memiliki pengetahuan tentang produk dan menguasai seni menjual seperti cara mendekati pelanggan, memberikan presentasi dan demontrasi, mengatasi pelaksanaan pelanggan, dan mendorong pembelian. 2. Negotiating, yaitu penjual harus mempunyai kemampuan untuk bernegosiasi tentang syarat-syarat penjual. 4. Publisitas Publisitas merupakan suatu periklanan tidak langsung dan tidak membayar untuk berkomunikasi yang dilakukan. Sifat dari publisitas ini tidak kontiniu dan berjangka pendek. Basu Swastha dan Irawan (2008:350), bahwa publisitas adalah pendorongan permintaan secara non pibadi untuk suatu produk, jasa atau ide dengan menggunakan berita komersial di dalam media massa dan sponsor tidak dibebani sejumlah bayaran secara langsung. Dari definisi di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa publisitas menguntungkan, contoh publisitas yang menguntungkan seseorang atau organisasi umumnya tidak memberikan atau tidak mengawasi medianya, sehingga dapat terjadi bahwa seseorang atau organisasi tidak mengetahui bahwa dirinya telah dipublikasikan. Disinilah letak perbedaan antara publisitas dengan periklanan dimana periklanan memerlukan sejumlah pembayaran. Dalam pernyataan berita-berita periklanan dapat dibuat publisitas yang dapat disiarkan sama seperti iklan. Publisitas dan pemasaran saling terkait, yang mana salah satu cara yang efektif untuk menjangkau adalah melalui publisitas. Dimana publisitas dalam publisitas itu perusahaan mempromosikan produk barunya sedangkan dilain pihak perusahaan ingin melakukan penjualan untuk mengumpulkan dana, dan untuk publisitas tidak perlu membayar. Hal inilah yang menyebabkan banyak perusahaan menggunakan publisitas dan perusahaan biasa mengumpulkan dana untuk melakukan periklanan. Untuk itulah diperlukan keahlian untuk menulis suatu berita agar media yang bersangkutan bersedia mempublisitaskan. Dengan mengeluarkan berita-berita tentang produk dapatlah mencapai pembeli yang potensial. 5. Pemasaran Langsung (Direct Marketing) Philip Kotler (2007:288) mengemukakan bahwa pemasaran langsung (direct marketing) adalah penggunaan saluran-saluran langsung konsumen untuk menjangkau dan menyerahkan barang dan jasa kepada pelanggan tanpa menggunakan perantara pemasaran. Pemasaran langsung adalah salah satu cara yang tumbuh paling pesat untuk melayani pelanggan. Pemasar langsung mencari tanggapan yang dapat diukur, khususnya pesanan pelanggan. Hal ini kadang-kadang disebut pemasaran pesanan langsung. Dewasa ini, banyak pemasar langsung menggunakan pemasaran langsung untuk membina jangka panjang dengan pelanggan. 2.1.6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bauran Promosi Efektifitas cara promosi berbeda antara pasar barang konsumen dan pasar barang industri. Perusahaan yang memproduksi barang konsumen biasanya menggunakan dana mereka untuk iklan diikuti oleh promosi penjualan, perorangan, dan publisitas. Perusahaan yang memproduksi barang industri menggunakan dana mereka untuk penjualan perorangan diikuti promosi penjualan, iklan, dan publisitas. Umumnya penjualan tatap muka lebih sering digunakan untuk barang-barang yang mahal dan penuh resiko. Menurut Basu Swastha dan Irawan (2008:355) faktor yang mempengaruhi bauran promosi adalah: 1. Jumlah Dana Jumlah dana yang tersedia merupakan faktor penting yang mempengaruhi bauran promosi. Perusahaan yang memiliki dana lebih besar, kegiatan promosinya akan lebih efektif dibandingkan dengan perusahaan yang hanya mempunyai sumber dana lebih terbatas. 2. Sifat Pasar Beberapa macam sifat pasar yang mempengaruhi bauran promosi ini meliputi: a. Luas pasar secara geografis Perusahaan yang hanya memiliki pasar lokal sering mengadakan kegiatan promosi yang berbeda dengan perusahaan yang memiliki pasar nasional atau internasional. b. Konsentrasi pasar Konsentrasi pasar ini dapat mempengaruhi strategi promosi yang dilakukan oleh perusahaan terhadap: jumlah calon pembeli, jumlah pembeli potensial yang macam-macamnya berbeda-beda, dan konsentrasi secara nasional. Perusahaan yang hanya memusatkan penjualannya pada satu kelompok pembeli saja, maka penggunaan alat promosinya akan berbeda dengan perusahaan yang menjual pada semua kelompok pembeli. c. Macam pembeli Strategi promosi yang dilakukan oleh perusahaan juga dipengaruhi oleh obyek atau sasaran dalam kampanye penjualannya. 3. Jenis Produk Faktor lain yang turut mempengaruhi strategi promosi perusahaan adalah jenis produknya, apakah barang konsumsi atau barang industri. Produk konsumsi juga bermacam-macam misalnya konvenien, shopping atau barang spesial. Biasanya untuk barang konvenien mengandalkan periklanan. Sedangkan strategi untuk barang industri menggunakan penjualan pribadi. 4. Tahap Daur Hidup Produk Ada empat tahap daur hidup suatu produk yaitu: 1. Tahap perkenalan Tahap ini perusahaan memasuki daerah perusahaan yang baru, sehingga kegiatan promosi lebih ditonjolkan. 2. Tahap pertumbuhan Tahap ini kegiatan promosi yang dilakukan untuk menstimulasi permintaan selektif terhadap merek tertentu dan menekankan pentingnya periklanan. 3. Tahap kedewasaan Pada tahap ini perusahaan menghadapi persaingan sangat tajam yang mengharuskan perusahaan menyediakan dana yang besar untuk promosi. 4. Tahap penurunan Situasi pasar tahap ini ditandai dengan menurunnya tingkat laba dan penjualan, maka promosi harus dikurangi. Sehubungan dengan penjelasan mengenai faktor yang mempengaruhi bauran promosi, Buchari Alma (2009:179), mengemukakan bahwa: 1. Faktor Anggaran Bisnis yang memiliki dana banyak tentu memiliki kemampuan besar dalam mengkombinasikan elemen-elemen promosi. Sebaliknya bisnis yang lemah keuangannya sedikit sekali menggunakan advertising dan promosinya kurang efektif. 2. Faktor Pasar Keadaan pasar, ini menyangkut daerah geografis pasaran produk dan juga calon konsumen yang dituju. 3. Faktor Produk Keadaan produk, ini menyangkut apakah produk ditujukan untuk konsumen akhir atau sebagai bahan industri, atau produk pertanian. Lain produk, lain pula teknik yang digunakan. 4. Faktor Tahap Siklus Hidup Produk Pada tingkat mana siklus kehidupan produk sudah dicapai, akan mempengaruhi promosi yang digunakan. 2.1.7. Pengaruh Bauran Promosi Terhadap Penjualan Tingkat volume penjualan yang menguntungkan merupakan tujuan dari konsep pemasaran, artinya laba dapat diperoleh dengan melalui pemuasan konsumen. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya laba yang dicapai suatu perusahaan merupakan pencerminan dari usaha perusahaan yang memberikan kepuasan, di mana untuk mencapai hal tersebut perusahaan harus dapat menyediakan barang atau jasa yang sesuai dengan keinginan konsumen. Dengan laba, perusahaan dapat tumbuh dan berkembang serta memperkuat posisinya di dalam membina kelangsungan hidupnya. Menurut Sofjan Assauri (2009:23), penjualan adalah suatu usaha yang terpadu untuk mengembangkan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada usaha pemuasan kebutuhan dan keinginan pembeli, guna mendapatkan penjualan yang menghasilkan laba. Promosi merupakan salah satu aspek dalam manajemen pemasaran dan sering dikatakan sebagai proses berlanjut. Ini disebabkan karena promosi dapat menimbulkan rangkaian kegiatan dan perusahaan. Laba yang diperoleh perusahaan berasal dari penjualan dalam setiap periodenya perusahaan perlu mengadakan promosi untuk memperkenalkan produknya pada pembeli dan masyarakat sehingga mereka tertarik untuk memiliki produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dikemukakan bahwa promosi berpengaruh terhadap penjualan dimana dengan melakukan kegiatan promosi, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan penjualan karena promosi untuk mempengaruhi konsumen agar mau mempergunakan produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. 2.2. Kerangka Pikir Dalam memasarkan produk PT. Jujur Jaya Sakti Makassar pada bagian Marketing menjalankan beberapa strategi promosi yang dapat menunjang penjualan. Strategi promosi yang dilaksanakan dapat berupa: periklanan, penjualan pribadi, promosi penjualan, publisitas dan pemasaran langsung. Dari data-data bauran promosi tersebut akan dianalisis dengan menggunakan metode regresi berganda, dimana X adalah biaya bauran promosi yang dikeluarkan dan Y adalah jumlah penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar. 2.3. Hipotesis Berdasarkan latar belakang dan masalah pokok yang dikemukakan, maka hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Diduga bahwa bauran promosi yang meliputi periklanan, penjualan pribadi, promosi penjualan, publisitas, dan pemasaran langsung berpengaruh signifikan terhadap peningkatan volume penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar.. 2. Diduga bahwa periklanan berpengaruh dominan terhadap peningkatan volume penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar.

Tugas matakuliah Metode Riset

BAB I PENDAHULUAN Promosi dalam meningkatkan volume penjualan mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar 1.1. Latar Belakang Industri kendaraan bermotor merupakan salah satu industri yang sangat pesat perkembangannya di dunia termasuk di Indonesia. Ini disebabkan kebutuhan manusia akan kendaraan sangata penting artinya terhadap kegiatan masyarakat secara langsung. Permintaan kebutuhan kendaraan bermotor akan terus meningkat seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pemasaran kendaraan tersebut. Wilayah Indonesia memiliki daratan yang luas, tentu akan membutuhkan kendaraan sebagai sarana transportasi, apalagi dengan semakin banyaknya jalur transportasi yang baru dibuka untuk menghubungkan suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Seiring peningkatan jumlah penduduk dan arus perpindahan penduduk juga akan mendorong peningkatan penggunaan kendaraan dalam menunjang kegiatan perekonomian masyarakat. Berkembangnya industri otomotif dunia tentu sangat berpengaruh bagi bangsa Indonesia, dimana begitu banyaknya jenis dan tipe kendaraan dari berbagai macam merek terus menyemarakan pasar kendaraan otomotif di Indonesia. Melihat Indonesia merupakan pasar yang cukup potensial. Hal ini menjadi peluang bagi para pelaku industri otomotif di Indonesia untuk dapat memanfaatkan kesempatan ini. Akan tetapi penurunan daya beli masyarakat akibat krisis ekonomi tentu akan mempengaruhi tingkat penjualan dari kendaraan tersebut. Akibat kondisi ekonomi yang kurang menentu memaksa produsen otomotif untuk menghasilkan kendaraan yang cocok dengan kondisi masyarakat, sehungga tetap terjangkau oleh masyarakat. Tahap perkembangan kegiatan industri kendaraan di Indonesia yang dulunya sebagai distributor dari mobil yang dibuat di luar negeri kini melangkah ke tahap perakitan (Assembly) dan terus meningkat ke tahap industri secara penuh (Full Manufacturing) yang merupakan salah satu upaya dari para produsen mobil untuk menekan biaya produksi sehingga nilai jual kendaraan tersebut dapat dijangkau oleh konsumen. Selain itu, juga dapat menyerap tenaga kerja dan alih teknologi yang sangat dibutuhkan sebagai negara sedang berkembang. Maraknya jenis dan kendaraan mobil yang ada di pasaran tentu akan menimbulkan masalah bagi produsen itu sendiri, dimana terjadi kompetisi didalam menarik konsumen sebanyak mungkin. Untuk menarik minat para pembeli, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan perbaikan sistem pemasaran yang lebih efektif. Pemasaran efektif dalam penerapannya bukan hanya bagaimana meningkatkan volume penjualan tetapi juga mengamati tingkah laku konsumen serta memenuhi keinginan konsumen melalui usaha perbaikan kualitas produk yang sesuai dengan harapan konsumen. Dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, seringkali perusahaan dihadapkan pada berbagai masalah, seperti kesulitan di dalam meningkatkan volume penjualan, adanya persaingan yang ketat dari perusahaan sejenis, semakin kompleksnya perilaku konsumen terhadap suatu produk, selera konsumen yang selalu berubah-ubah, serta kondisi ekonomi yang kurang menentu. Menurut konsep pemasaran berhasilnya suatu perusahaan apabila perusahaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan konsumen dengan lebih baik, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah memasuki era kompetisi. Sejalan dengan hal tersebut, upaya yang dapat dilakukan dalam memasarkan suatu produk yakni dengan melakukan kegiatan promosi yang meliputi, advertising, sales promotion, personal selling, public relation, direct marketing agar calon konsumen lebih mengenal, memahami, serta simpati terhadap produk yang ditawarkan. Promosi dihadapkan pada berbagai macam kegiatan yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan kelebihan-kelebihan produk yang dimiliki agar dapat membujuk calon pembeli. Oleh sebab itu manajer pemasaran harus memilih bentuk promosi yang tepat dan terpadu agar menghasilkan efek domino sehingga dapat meningkatkan volume penjualan. Demikian halnya dengan PT. Jujur Jaya Sakti sebagai penyalur kendaraan bermotor di Makassar yang berkedudukan di jalan Gunung Bawakaraeng, tentu sangat memperhatikan sistem pemasaran dan promosi penjualan secara efektif kendaraan merek Daihatsu sudah pasti akan intens dalam melakukan kegiatan promosi dengan berbagai media, dengan tujuan merebut pangsa pasar dari berbagai jenis kendaraan telah diluncurkan kepasaran. Berdasarkan kondisi yang telah disebutkan diatas dimana begitu banyaknya produk-produk yang sama yang ditawarkan dari berbagai macam produsen sehingga meramaikan bursa otomotif menarik minat penulis untuk mengambil judul: “Analisis Bauran Promosi Dalam Meningkatkan Volume Penjualan Mobil Daihatsu Pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar.” 1.2. Rumusan Masalah Setiap perusahaan yang akan atau sedang melakukan kegiatan usaha tidak luput dari bermacam-macam masalah yang harus dipecahkan demi kelancaran usahanya. Masalah pokok pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar adalah; 1. Apakah bauran promosi yang meliputi periklanan, penjualan pribadi, promosi penjualan, publisitas dan pemasaran langsung berpengaruh terhadap peningkatan volume penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar? 2. Bauran promosi apakah yang paling dominan dalam meningkatkan volume penjualan Mobil Daihatsu? 1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pengaruh bauran promosi terhadap perkembangan volume penjualan Mobil Daihatsu pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar dengan promosi yang selama ini di terapkan. 2. Untuk mengetahui bauran promosi yang paling dominan mempengaruhi terhadap perkembangan volume penjualan Mobil Daihatsu Pada PT. Jujur Jaya Sakti Makassar. 1.3.2. Kegunaan Penelitian 1. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak perusahaan dalam menerapkan dan melaksanakan promosi dalam meningkatkan volume penjualan Mobil Daihatsu. 2. Sebagai salah satu referensi bagi penulis, pihak perusahaan, dan para calon peneliti selanjutnya.

Menuju pasar modal berbasis syariah

Dalam Islam investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat dianjurkan, karena dengan berinvestasi harta yang dimiliki menjadi produktif dan juga mendatangkan manfaat bagi orang lain. Al-Quran dengan tegas melarang aktivitas penimbunan (iktinaz) terhadap harta yang dimiliki (9:33). Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Saw bersabda,”Ketahuilah, Siapa yang memelihara anak yatim, sedangkan anak yatim itu memiliki harta, maka hendaklah ia menginvestasikannya (membisniskannya), janganlah ia membiarkan harta itu idle, sehingga harta itu terus berkurang lantaran zakat” Untuk mengimplementasikan seruan investasi tersebut, maka harus diciptakan suatu sarana untuk berinvestasi.Banyak pilihan orang untuk menanamkan modalnya dalam bentuk investasi. Salah satu bentuk investasi adalah menanamkan hartanya di pasar modal. Pasar modal pada dasarnya merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan atau surat-surat berharga jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang maupun modal sendiri. Institusi pasar modal syariah merupakan salah satu pengejawantahan dari seruan Allah tentang investasi tersebut Pasar modal merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian dunia saat ini. Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan institusi pasar modal sebagai media untuk menyerap investasi dan media untuk memperkuat posisi keuangannya. Menurut Irfan Syawqy, secara faktual, pasar modal telah menjadi financial nerve-centre (saraf finansial dunia, Red) dunia ekonomi modern. Bahkan, perekonomian modern tidak akan mungkin eksis tanpa adanya pasar modal yang terorganisir dengan baik. Setiap hari terjadi transaksi triliunan rupiah melalui institusi ini Menurut metwally (1995, 177) fungsi dari keberadaan pasar modal syariah : 1. Memungkinkan bagi masyarakat berpartispasi dalam kegiatan bisnis dengan memperoleh bagian dari keuntungan dan risikonya. 2. Memungkinkan para pemegang saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas 3. Memungkinkan perusahaan meningkatkan modal dari luar untuk membangun dan mengembangkan lini produksinya 4. Memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal konvensional 5. Memungkinkan investasi pada ekonomi itu ditentukan oleh kinerja kegiatan bisnis sebagaimana tercermin pada harga saham. Sedangkan karakteristik yang diperlukan dalam membentuk pasar modal syariah (Metwally, 1995, 178-179) adalah sebagai berikut : 1. Semua saham harus diperjualbelikan pada bursa efek 2. Bursa perlu mempersiapkan pasca perdagangan dimana saham dapat diperjualbelikan melalui pialang 3. Semua perusahaan yang mempunyai saham yang dapat diperjualbelikan di Bursa efek diminta menyampaikan informasi tentang perhitungan (account) keuntungan dan kerugian serta neraca keuntungan kepada komite manajemen bursa efek, dengan jarak tidak lebih dari 3 bulan 4. Komite manajemen menerapkan harga saham tertinggi (HST) tiap-tiap perusahaan dengan interval tidak lebih dari 3 bulan sekali 5. Saham tidak boleh diperjual belikan dengan harga lebih tinggi dari HST 6. Saham dapat dijual dengan harga dibawah HST 7. Komite manajemen harus memastikan bahwa semua perusahaan yang terlibat dalam bursa efek itu mengikuti standar akuntansi syariah 8. Perdagangan saham mestinya hanya berlangsung dalam satu minggu periode perdagangan setelah menentukan HST 9. Perusahaan hanya dapat menerbitkan saham baru dalam periode perdagangan, dan dengan harga HST Dalam perjalanannya, perkembangan pasar modal syariah di Indonesia telah mengalami kemajuan, sebagai gambaran setidaknya terdapat beberapa perkembangan dan kemajuan pasar modal syariah yang patut dicatat diantaranya adalah telah diterbitkan 6 (enam) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang berkaitan dengan industri pasar modal. Adapun ke enam fatwa dimaksud adalah : 1. No.05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Saham 2. No.20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah 3. No.32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah 4. No.33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah 5. No.40/DSN-MUI/IX/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip syariah di Bidang Pasar Modal 6. No.41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah. Bapepam juga telah memberikan perhatian besar kepada pasar modal syariah. Hal itu terlihat pada pengembangan pasar modal syariah untuk kerja lima tahun ke depan. Rencana tersebut dituangkan dalam Master Plan Pasar Modal Indonesia 2005-2009. Berkembangnya produk pasar modal berbasis syariah juga merupakan potensi dan sekaligus tantangan pengembangan pasar modal di Indonesia. Menurut Bapepam, ada dua strategi utama yang dicanangkan Bapepam untuk mecapai pengembangan pasar modal syariah dan produk pasar modal syariah. Pertama, mengembangkan kerangka hukum untuk memfasilitasi pengembangan pasar modal berbasis syariah. Yang kedua, mendorong pengembangan produk pasar modal berbasis syariah. Ada dua strategi utama tersebut dijabarkan Bapepam menjadi tujuh implementasi strategi : 1. mengatur penerapan prinsip syariah 2. menyusun standar akuntansi 3. mengembangkan profesi pelaku pasar 4. sosialisasi prinsip syariah 5. mengembangkan produk 6. menciptakan produk baru 7. meningkatkan kerja sama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI Spekulasi Sebagai institusi keuangan modern, pasar modal tidak terlepas dari berbagai kelemahan dan kesalahan. Salah satunya adalah tindakan spekulasi. Para ”investor” selalu memperhatikan perubahan pasar, membuat berbagai analisis dan perhitungan, serta mengambil tindakan spekulasi di dalam pembelian maupun penjualan saham. Aktivitas inilah yang membuat pasar tetap aktif. Tetapi, aktivitas ini tidak selamanya menguntungkan, terutama ketika menimbulkan depresi yang luar biasa. Dalam pasar modal ini, dibedakan antara spekulan dengan pelaku bisnis (investor) dari derjat ketidak pastian yang dihadapinya. Untuk itu perlu dilihat dahulu karakter dari masing-masing investasi dan spekulasi, Pertama, Investor di pasar modal adalah mereka yang memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan Tbk yang diyakininya baik dan menguntungkan, bukan untuk tujuan mencari capital gain melalui short selling. Mereka mendasari keputusan investasinya pada informasi yang terpercaya tentang faktor-faktor fundamental ekonomi dan perusahaan itu sendiri melalui kajian yang seksama. Sementara spekulan bertujuan untuk mendapatkan gain yang biasanya dilakukan dengan upaya goreng menggoreng saham. Kedua, spekulasi sesungguhnya bukan merupakan investasi, meskipun di antara keduanya ada kemiripan. Perbedaan yang sangat mendasar di antara keduanya terletak pada ‘spirit’ yang menjiwainya, bukan pada bentuknya. Para spekulan membeli sekuritas untuk mendapatkan keuntungan dengan menjualnya kembali secara (short term). Sedangkan para investor membeli sekuritas dengan tujuan untuk berpartisipasi secara langsung dalam bisnis yang lazimnya bersifat long term. Ketiga, Spekulasi adalah kegiatan game of chance sedangkan bisnis adalah game of skill. Seorang dianggap melakukan kegiatan spekulatif apabila ia ditenggarai memiliki motif memanfaatkan ketidak pastian tersebut untuk keuntungan jangka pendek. Dengan karakteristik tersebut, maka investor yang terjun di pasar perdana dengan motivasi mendapatkan capital gain semata-mata ketika saham dilepas di pasar sekunder, bisa masuk ke dalam golongan spekulan (Sapta, 2002) Keempat, spekulasi telah meningkatkan unearned income bagi sekelompok orang dalam masyarakat, tanpa mereka memberikan kontribusi apapun, baik yang bersifat positif maupun produktif. Bahkan, mereka telah mengambil keuntungan di atas biaya masyarakat, yang bagaimanapun juga sangat sulit untuk bisa dibenarkan secara ekonomi, sosial, maupun moral. Kelima, spekulasi merupakan sumber penyebab terjadinya krisis keuangan. Fakta menunjukkan bahwa aktivitas para spekulan inilah yang menimbulkan krisis di Wall Street tahun 1929 yang mengakibatkan depresi yang luar biasa bagi perekonomian dunia di tahun 1930-an. Begitu pula dengan devaluasi poundsterling tahun 1967, maupun krisis mata uang franc di tahun 1969. Ini hanyalah sebagian contoh saja. Bahkan hingga saat ini, otoritas moneter maupun para ahli keuangan selalu disibukkan untuk mengambil langkah-langkah guna mengantisipasi tindakan dan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh para spekulan. Keenam, spekulasi adalah outcome dari sikap mental ‘ingin cepat kaya’. Jika seseorang telah terjebak pada sikap mental ini, maka ia akan berusaha dengan menghalalkan segala macam cara tanpa mempedulikan rambu-rambu agama dan etika. Karena itu, ajaran Islam secara tegas melarang tindakan spekulasi ini, sebab secara diametral bertentangan dengan nilai-nilai illahiyah dan insaniyyah. Masalahnya, adalah bagaimana pasar modal syariah bisa mengeliminasi praktek spekulasi ? spekulasi dilarang bukan karena ketidakpastian yang ada dihadapannya, melainkan tujuan/niat dan cara orang mempergunakan ketidak pastian tersebut. Manakala Ia meninggalkan sense of responsibility dan rule of law nya untuk memperoleh keuntungan semata dari adanya ketidakpastian, itulah yang dilarang dalam konsep gharar dan maysir dalam Islam . Al gharar dan maysir sendiri adalah konsep yang sangat berkaitan dengan mudharat, negative result, atau bahaya (hazard). Di pasar modal, larangan syariah di atas mesti diimplementasikan dalam bentuk aturan main yang mencegah praktek spekulasi, riba, gharar dan maysir. Salah satunya adalah dengan menetapkan minimum holding period atau jangka waktu memegang saham minimum. Dengan aturan ini, saham tidak bisa diperjualkan setiap saat, sehingga meredam motivasi mencar untung dari pergerakan harga saham semata. Masalahnya, berapa lama minimum holding period yang masuk akal ? pembatasan itu memang meredam spekulasi, akan tetapi juga membuat investasi di pasar modal menjadi tidak likuid. Padahal bukan tidak mungkin seorang investor yang rasional betul-betul membutuhkan likuiditas mendadak sehingga harus mencairkan saham yang dipeganya, sedangkan ia terhalang karena belum lewat masa minimum holding periodnya. Metwally, seorang pakar ekonomi Islam dan modelling economics mengusulkan minum holding period setidaknya satu pekan. Selain itu Ia juga memandang perlu adanya celling price berdasarkan nilai pasar perusahaan. Lebih lanjut Akram Khan melengkapi, untuk mencegah spekulasi di pasar modal maka jual beli saham harus diikuti dengan serah terima bukti kepemilikan fisik saham yang diperjual belikan. Mengenai kekhawatiran bahwa penjualan saham di tengah masa usaha, akan menimbulkan kemungkinan gharar, seperti halnya jual beli ikan di dalam laut dapat diatasi dengan praktek akuntasi modern dan adanya kewajiban disclosure laporan keuangan kepada pemilik saham. Dengan berbagai model penilaian modern saat ini, investor dan pasar secara luas akan dapat memiliki pengetahuan tentang nilai sebuah perusahaan, sehingga saham-saham dapat diperjual belikan secara wajar dengan harga pasar yang rasional. Dalam hal ini, market value tampaknya lebih mencerminkan nilai yang lebih wajar dibandingkan dengan book value. Dengan demikian dapat ditarik kjesimpulan bahwa sekuritas –sekuritas dapat diperjual belikan dengan menggunakan mekanisme pasar sebagai penentu harga, sehingga capital gain maupun profit sharing dari dividen dapat diperoleh. Kendala dan Starategi Menurut Nurul Huda, Pakar Pasar Modal Syariah Pascasarjana UI (2006), dalam mengembangkan pasar modal syariah di Indoensia, ada beberapa kendala yang dihadapi : antara lain : 1. Belum ada ketentuan yang menjadi legitimisi pasar modal syariah dari Bapepam atau pemerintah, misalnya Undang-Undang. Perkembangan keberadaan pasar modal syariah saat ini merupakan gambaran bagaimana legalitas yang diberikan Bapepam dan pemerintah lebih tergantung dari permintaan pelaku pasar yang menginginkan keberadaan pasar modal syariah 2. Selama ini pasar modal syariah lebih populer sebagai sebuah wacana dimana banyak bicara tentang bagaimana pasar yang disyariahkan. Dimana selama ini praktek pasar modal tidak bisa dipisahkan dari riba, maysir dan gharar, dan bagaimana memisahkan ketiganya dari pasar modal 3. Sosialisasi instrumen syariah di pasar modal perlu dukungan dari berbagai pihak. Karena ternyata perkembangan pasar modal perlu dukungan berbagai pihak. Karena ternyata perkembangan Jakarta Islamic Index dan reksadana syariah kurang tersosialisasi dengan baik sehingga perlu dukungan dari berbagai pihak, khususnya praktisi dan akademisi. Praktisi dapat menjelaskan keberadaan pasar modal secara pragmatis sedangkan akademisi bisa menjelaskan secara ilmiah Beradasarkan pada kendala –kendala di atas maka strategi yang perlu dikembangkan : 1. Keluarnya Undang-Undang Pasar modal syariah diperlukan untuk mendukung keberadaan pasar modal syariah atau minimal menyempurnakan UUPM No 8 Tahun 1995, sehingga dengan hal ini diharapkan semakin mendorong perkembangan pasar modal syariah 2. Perlu keaktifan dari pelaku bisnis (pengusaha) muslim untuk membentuk kehidupan ekonomi yang islami. Hal ini guna memotivasi meningkatkan image pelaku pasar terhadap keberadaan instrumen pasar modal yang sesuai dengan syariah 3. Diperlukan rencana jangka pendek dan jangka panjang oleh Bapepam untuk mengakomodir perkembangan instrumen-instrumen syariah dalam pasar modal. Sekaligus merencanakan keberadaan pasar modal syariah di tanah air. 4. Perlu kajian-kajian ilmiah mengenai pasar modal syariah, oleh karena itu dukungan akadmisi sangat diperlukan guna memahamkan perlunya keberadaan pasar modal syariah. Sumber:

Solusi mengatasi kemacetan dari para calon gubernur

Jika banjir biasanya menjadi masalah di Jakarta setiap 5 tahun sekali, lain dengan kemacetan. Kemacetan merupakan masalah yang harus dihadapi warga Jakarta setiap hari kecuali pada saat libur lebaran. Mengapa busway belum menjadi solusi mengatasi kemacetan? Saya sangat kecewa menggunakan busway. Jika dulu dengan bis biasa bisa ditempuh dengan satu jam, maka menggunakan busway yang muncul begitu lama, kemudian sesudah munculpun harus antri menunggu busway selanjutnya karena busway yang ada sudah penuh berjubel. Sehingga total bisa 2 jam. Harus jalan dulu antara tiap halte melalui jembatan yang panjangnya sampai ratusan meter dan sekarang ini busway sangat tidak nyaman dengan pemisahan co/ce, sering kali saya harus berdiri karena cewek pun duduk di belakang sedangkan cowok tidak boleh duduk di depan. Artinya selama menunggu antar halte misal dari gelanggang remaja Cawang ke Senayan City. Pertama saya naik di halte gelanggang remaja, kemudian transit dan menyebrang di BNN, lalu berhenti di Semanggi, berjalan sampai ke halte Karet kemudian naik dan turun di Ratu Plaza. Jika saya mengantri 5-10 menit tiap hate, kadang 30 menit di satu halte, berjalan di setiap jembatan transit 20 menit ditambah waktu perjalanan, total bisa 2 jam. Artinya selama 2 jam saya berdiri di halte mengantri dan di busway yang penuh sesak untuk satu perjalanan. Itu belum lagi jika saya dari cawang ke daerah Gandaria City, saya tidak berhenti di Semanggi tetapi lanjut sampai grogol, setelah itu transit lagi dari grogol, berjalan lagi dari halte grogol 2 ke halte grogol 1 kemudian mengantri lagi, baru lanjut sampai ke halte pasar kebayoran. Biasa total lebih dari 3 jam. Kalau setiap penumpang merasa kecewa dengan busway tentu akan beralih ke kendaraan pribadi yang jauh lebih manusiawi. Sepertinya duduk manis di Mikrolet M 06 jurusan Kp Melayu – Gandaria akan lebih cepat sampai. Setiap calon gubernur memberikan janji dan solusi mengatasi kemacetan. Apa saja program mereka? Bagaimana mereka mengatur kendaraan pribadi & menfasilitasi kendaraan umum dan busway? Menurut Fauzi Bowo penyebab kemacetan adalah adanya parkir liar di sepanjang jalan raya, bus yang berhenti tidak pada halte atau terminal, hingga joki pada kawasan three in one, menandakan kurangnya kesadaran berperilaku lalulintas. Solusi mengatasi kemacetan dari Foke adalah untuk mengatasi parkir liar, Pemprov telah membangun gedung-gedung parkir dan Kawasan Parkir Terpadu (KPT), sebagai pilot project pembangunan tersebut akan dimulai di kawasan Jalan Gajah Mada hingga Jalan Hayam Wuruk. Pemprov DKI Jakarta juga merencanakan dan mempersiapkan penerapan Electronic Road Pricing System (ERP) pada kawasan three in one untuk mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi. Juga akan dimulai pembuatan MRT pada Juni 2012 dengan dana 15 trilyun dengan 12 halte dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Analisa saya, Apakah dengan sekali angkut 1500 orang akan nyaman duduk atau harus berdiri? Kapan selesai? Bagaimana sementara menunggu MRT itu selesai sementara pembangunannya sendiri akan menutup jalan-jalan dan membuat kemacetan baru di beberapa titik. Hidayat Nur Wahid mempunyai solusi mengatasi kemacetan yang lain. Menurutnya penyebab kemacetan adalah sebanyak 800 ribu kendaraan pribadi masuk ke Jakarta setiap harinya. Maka dengan dibangun lahan parkir di pinggiran Jakarta dan dibangun Halte busway pada tempat tersebut, maka mobil-mobil pribadi akan parkir di sana dan penggunanya beralih menggunakan busway. Selain itu membangun flyover pada setiap lampu merah yang menjadi pusat kemacetan. Para supir kendaraan pun harus disiplin untuk tidak menurunkan penumpang pada badan jalan. Tentang pembatasan kendaraan pribadi berdasar nomor atau tanggalan, HNW mengatakan “akan jadi masalah jika hanya memiliki satu kendaraan pribadi”. Analisa saya, seberapa banyak orang mau direpotkan beralih dari mobil pribadi ke busway yang penuh sesak? HNW lebih perduli pada pemilik kendaraan pribadi jika penggunaan kendaraan pribadi dibatasi. Bagaimana dengan nasib saya dan rakyat kecil lain yang sama sekali tidak punya kendaraan pribadi? Bukankah tujuan pembatasan adalah supaya mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum? Faisal Basri pun tidak setuju jika mengurangi kemacetan dengan menambah jalan layang. Menurutnya sekarang ini angkutan busway baru berjumlah 600 buah, jika ditambah 1000 buah maka membutuhkan dana 1 triliun, sedangkan untuk satu jalan layang dibutuhkan dana 2 triliun. Jadi untuk menambah unit busway akan lebih murah. Hal lainnya dengan menambah rel kereta listrik dalam kota yang mengitari seluruh Jakarta. Jika fasilitas kendaraan umum sudah dipenuhi dan nyaman baru dibuat peraturan untuk pembatasan kendaraan pribadi. Alex Noerdin mengaku mendapatkan data akibat kemacetan dalam satu tahun Jakarta mengalami kerugian Rp 46 triliun. Ia menuturkan masyarakat bergeser menggunakan kendaraan pribadi, dari kendaraan umum, karena dianggap tidak nyaman. Menurut Alex, pada tahun 2002 lebih dari 50 persen penduduk Jakarta memanfaatkan kendaraan umum sebagai sarana transportasi. Namun di tahun 2010, Alex mengklaim hanya sekitar 16,7 persen warga yang masih menggunakan kendaraan umum. Ia pun menilai pertumbuhan jalan di Jakarta tidak seimbang dengan pertumbuhan kendaraan yang ada. Salah satu faktor yang ikut menyebabkan kemacetan, kata Alex, adalah parkir off street atau parkir dengan memanfaatkan badan jalan. Untuk mengatasi kemacetan tersebut, Alex menawarkan tiga solusi mengatasi kemacetan. Solusi-solusi tersebut adalah optimalisasi kendaraan umum, pembatasan kendaraan pribadi, serta melakukan penataan ruang atas Kota Jakarta. Alex mengklaim dirinya akan membutuhkan dana Rp 7,04 triliun untuk mengatasi permasalahan transportasi di Jakarta dengan kemacetan di dalamnya. Saya setuju dengan penyebab dan solusi yang ditawarkan Alex, hanya saja belum dijelaskan tentang rencana detail supaya itu bisa terlaksana. Solusi mengatasi kemacetan versi Jokowi antara lain, pengadaan busway yang akan melintas setiap 3 menit. Jika sekarang ada 500 unit, maka dengan penayangan iklan di busway bisa untuk mendanai dan menambah hingga 2000 unit. Proyek lainnya menggunakan trem, trem akan menggunakan rel di jalur busway yang sekarang ada, sementara busway akan dipindahkan ke jalur lain. Selain itu pembangunan monorel akan dilanjutkan. Untuk pembatasan kendaraan pribadi, maka di tempat tertentu, biaya parkir akan dibuat tinggi. Sebagai pengguna kendaraan umum seperti busway saya merasa ini langkah bijak dalam mengatasi kemacetan sekaligus menfasilitasi rakyat dengan kendaraan umum yang nyaman. Trem juga lebih murah daripada membuat MRT, jalurnya tidak akan diserobot oleh kendaraan pribadi karena diganti rel. Ahmad Riza Patria memberikan solusi mengatasi kemacetan integral, yaitu membuat bus rel, meremajakan Kopaja, membuat angkutan air, serta mengoptimalkan kereta rel listrik. Riza juga setuju dengan rencana untuk melanjutkan pembangunan monorel, rel bus atau trem jarak pendek dengan biaya yang cukup murah. Seandainya saya menjadi Gubernur, saya sendiri mempunyai solusi mengatasi kemacetan: 1. Tentu saya setuju dengan menambah unit dan koridor busway seperti program Jokowi menggunakan iklan di busway, 2. saya juga setuju dengan biaya parkir yang tinggi. 3. Pembatasan kendaraan lebih baik dengan meningkatkan pajak kendaraan pribadi, juga menambah pemasukan dari sector pajak. Pelarangan penggunaan BBM subsidi untuk mobil pribadi, juga untuk penghematan BBM. 4. Pembatasan umur kendaraan pada saat perpanjangan STNK misal 10 tahun setelah itu harus dijual sebagai besi tua atau ganti mesin dan nomor kendaraan hingga tidak menimbulkan polusi karena mesin yang sudah tua. 5. Setelah itu baru mulai mempertimbangkan solusi dari trem, monorel, MRT ataupun kendaraan air. Saya yakin ini solusi mengatasi kemacetan, tapi saya yakin para pemilik kendaraan pribadi apalagi distributor kendaraan pribadi tidak akan setuju. Dengan dana yang besar, pasti calon gubernur dengan program seperti ini akan ditolak bahkan diturunkan dari jabatan. Saya juga mungkin tidak akan membuat kebijakan seperti ini jika saya memiliki mobil pribadi seperti para pejabat. Sumber: http://tekkwie.com/solusi-mengatasi-kemacetan-dari-para-calon-gubernur

Minggu, 02 Desember 2012

Langkah Awal Menjadi Investor di Pasar Modal

Sebelum menjadi investor pasar modal sedianya masyarakat atau calon investor mengerti, memahami serta memiliki pengetahuan tentang produk investasi, keuntungan maupun resikonya. Diperlukan persiapan dan langkah-langkah yang dapat memberikan pedoman untuk berinvestasi secara bijak dan aman di pasar modal. Mengerti dan memahami apa itu investasi di pasar modal adalah “susah susah gampang”, tetapi juga tidak terlalu sulit. Banyak orang beranggapan, untuk berinvestasi dipasar modal membutuhkan dana yang relatif besar, menyita waktu untuk memantau perkembangan investasi serta minimnya pengetahuan tentang investasi di pasar modal. Dengan adanya keinginan dan kemauan berinvestasi, maka seorang investor harus mempersiapkan diri dari segala sesuatunya yang menyangkut pengetahuan tentang produk dan cara berinvestasi di pasar modal, modal yang telah tersedia, serta waktu untuk memantau perkembangan investasinya. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan sebelum menjadi investor pasar modal, diantaranya: 1. Mengerti, Paham dan Tahu Produknya Ada berbagai jenis produk investasi yang ditawarkan di pasar modal, produk investasi yang banyak dipilih oleh investor diantaranya Saham, Obligasi dan Reksadana. Apa itu saham? Saham adalah bukti kepemilikan seseorang terhadap suatu perusahaan, saham memberikan 2 (dua) keuntungan utama, yang pertama dividen yaitu pembagian keuntungan laba bersih perusahaan kepada pemegang saham yang kedua capital gain yaitu selisih keuntungan jika menjual saham diatas harga beli. Sedangkan kerugian dapat ditimbulkan ketika seseorang menjual saham di bawah harga beli atau disebut dengan capital loss serta perusahaan mengalami likuidasi karena saham dari perusahaan yang dibeli mengalami kerugian terus menerus dan berakhir kepada kebangkrutan. Sedangkan obligasi merupakan surat hutang yang dikeluarkan atau diterbitkan baik oleh perusahaan maupun Negara dengan memberikan keuntungan berupa bunga dan mengembalikan dana pinjaman kepada pembeli obligasi setelah jatuh tempo. Berikutnya reksa dana yaitu kumpulan modal dari banyak investor yang selanjutnya dikelola oleh menajer investasi dan diinvestasikan ke dalam Portofolio efek, Portofolio efek bisa terdiri dari saham, obligasi, pasar uang atau campuran dari ketiga instrumen investasi tersebut. Umumnya untuk investor pemula serta investor dengan tipe risk taker yaitu investor yang tidak ingin mengambil risiko terlalu besar akan memulai berinvestasi dari obligasi dan reksa dana dibandingkan saham yang memiliki tingkat risiko yang lebih besar. Saat ini banyak lembaga pendidikan yang memberikan pelatihan mengenai investasi di pasar modal maupun sekolah pasar modal yang terdapat di Bursa Efek Indonesia. 2. Persiapkan modal untuk berinvestasi Modal yang digunakan untuk berinvestasi merupakan modal yang digunakan khusus untuk berinvestasi, bukan dana kebutuhan sehari – hari. Karena investasi di pasar modal mempunyai likuiditas yang tinggi sehingga terjadi perubahan naik turunnya nilai investasi relatif cepat. Sehingga ketika nilai investasi turun, maka investor dapat mempertahankan portofolionya untuk tidak dijual hingga nilai investasi kembali kapada modal awal dan bahkan nilai investasi menjadi meningkat. Saat ini dana yang dibutuhkan untuk berivestasi di pasar modal saat relatif terjangkau, untuk investasi saham dibeberapa perusahaan sekuritas (broker) modal awal berinvestasi sebesar Rp 5.000.000. sementara untuk pasar obligasi yang menjadi buruan investor khususnya investor dengan dana yang terbatas adalah Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dengan minimal pembelian sebesar Rp 5.000.000. Sedangkan Reksa Dana nilai investasi pembelian minimum sebesar Rp 100.000. Di pasar modal terdapat investor yang melakukan investasi secara berkala, dengan penambahan dana investasi setiap periode, misal setiap bulan hingga tahunan atau biasa disebut dengan tabungan investasi di pasar modal, meskipun sifatnya tidak seperti tabungan. Karena berbeda antara tabungan dengan investasi di pasar modal. 3. Menjadi Investor Saatnya menjadi investor, calon investor dapat membuka rekening investasi dipasar modal caranya seperti membuka rekening di bank, cukup mendatangai perusahaan efek yang telah terdaftar di Bapepam - LK dan akan disediakan formulir pembukan rekening efek Beberapa tips yang perlu diketahui calon investor pada saat membuka rekening di perusahaan efek : Pastikan bahwa perusahaan efek adalah anggota bursa yang telah terdaftar serta mendapatkan ijin usaha dari Bapepam – LK. Jangan mudah terpercaya dengan imbal hasil yang tinggi tanpa memperhatikan dari mana hasil itu diperoleh. Pastikan calon investor membuka subrekening efek sebagai keamanan dari pencairan dana yang hanya dapat dilakukan oleh investor itu sendiri. Pastikan calon investor memiliki kartu Akses yang digunakan untuk mengetahui efek kepemilikan. Sumber:http://www.otdanews.com/read-news-12-0-57-langkah-awal-menjadi-investor-di-pasar-modal.otdanews

Rabu, 21 November 2012

Aktivitas investasi di Indonesia terus meningkat

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan aktivitas investasi di Indonesia terus meningkat seiring dengan kestabilan pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun terakhir. "Dalam beberapa tahun fundamental ekonomi menunjukkan ketahanan dan ini membuat para investor asing melihat ada kesempatan untuk menanamkan modal di Indonesia," ujarnya dalam sambutan acara Indonesia Investment Forum di Jakarta, Senin. Menkeu memaparkan hingga semester I, pertumbuhan investasi secara keseluruhan menunjukkan angka 11,2 persen, dibandingkan angka pertumbuhan investasi tahun lalu yang tercatat 8,8 persen. "Tahun lalu, pembentukan modal tetap bruto atau investasi tumbuh 8,8 persen dalam komponen PDB nasional. Sementara hingga semester I tahun ini, investasi telah tumbuh 11,2 persen," ujarnya. Menkeu juga menambahkan angka investasi asing atau foreign direct investment tercatat lebih tinggi secara tahunan (year on year) pada semester I yaitu meningkat hingga 30,4 persen. "Total investasi langsung tercatat Rp148 triliun pada paruh pertama 2012 atau naik 28,1 persen dari tahun lalu. Secara detil, investasi asing atau FDI meningkat 30,4 persen menjadi sekitar Rp107,6 triliun," ujarnya. Sementara, berdasarkan sektor industri, manufaktur dan pertambangan merupakan sektor dengan nilai investasi asing terbesar, masing-masing membukukan 50,5 persen dan 16,3 persen dari total FDI pada triwulan kedua 2012. Dengan potensi itu, Menkeu melanjutkan pemerintah mengharapkan angka investasi dan penanaman modal dapat terus meningkat untuk menyumbang angka pertumbuhan yang stabil dalam kisaran enam atau tujuh persen. Namun pemerintah menyadari masih banyak hal yang memerlukan perbaikan, sehingga sangat penting untuk memastikan bahwa momentum positif tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. "Menyusul penyusunan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI, kami berharap UU Pembebasan Lahan dan regulasi terkait lainnya akan dapat menyelesaikan hambatan pada pembangunan infrastruktur," kata Menkeu. Untuk itu, Menkeu memastikan pemerintah akan memberikan bentuk insentif perpajakan kepada investasi serta sektor industri dan meneruskan agenda reformasi birokrasi untuk terus menjaga iklim investasi di Indonesia. "Kami juga memberikan fasilitas insentif pajak dalam bentuk tax holiday, tax allowances dan pembebasan bea masuk kepada beberapa sektor usaha. Serta, melanjutkan agenda reformasi birokrasi untuk meningkatkan kenyamanan berinvestasi di Indonesia," ujarnya. Sumber: http://www.antaranews.com/berita/333601/aktivitas-investasi-di-indonesia-terus-meningkat

Geng motor brutal leluasa beraksi di Pekanbaru

Pekanbaru (ANTARA News) - Warga Kota Pekanbaru meminta pihak kepolisian segera mengambil tindakan tegas terhadap kawanan geng motor, setelah dua orang warga kembali jadi korban kebrutalan mereka. "Polisi harus menghentikan kebrutalan geng motor karena mereka sudah meresahkan dan sudah banyak jadi korbannya," kata Huzaema (22), seorang warga di Pekanbaru, Minggu. Huzaema adalah keluarga dari salah satu korban keganasan geng motor. Pada Minggu dini hari (30/9), dua orang warga terluka luka berat akibat sabetan benda tajam yang dibawa kawanan geng motor. Korban adalah Ivan (22) dan Febryandi (20). Kasus ini merupakan yang kesekian kali terjadi, setelah lima warga sebelumnya juga sempat dianiaya geng motor pada bulan Agustus. Seorang warga lainnya, Jasman (30), mengatakan sejumlah anggota geng motor terlihat mengamuk di depan Purna MTQ di Jalan Sudirman, Pekanbaru. Ironisnya, aksi anarkis itu terjadi saat jajaran Polresta Pekanbaru menggelar razia terhadap pengguna kendaraan bermotor. "Setiap kendaraan yang melintas dilempar dengan pipa besi dan apabila terjatuh mereka langsung menganiayanya. Bahkan, saya dilempar dengan pipa besi," ujarnya. Korban kekerasan geng motor, Ivan (22) adalah warga Jalan Suka Karya-Kualu Pekanbaru. Korban mengalami luka di kepalanya akibat sabetan benda tajam dari kawanan geng motor. Ivan masih beruntung karena berhasil melarikan diri dan dilarikan ke Rumah sakit Bhayangkara, Pekanbaru. Korban kedua adalah Ferbryandi (20) warga Jalan Sukakarya. Saat korban melintas di depan Purna MTQ, mendadak kawanan geng motor meneriaki dan membacoknya dengan senjata tajam. Akibatnya, korban menderita luka di kedua kakinya, tangan dan punggung. Korban langsung diselamatkan warga setempat dan dibawa ke Rumah sakit Eka Hospital, Pekanbaru. (F012/E001) Sumber: http://www.antaranews.com/berita/336118/geng-motor-brutal-leluasa-beraksi-di-pekanbaru

Rabu, 07 November 2012

Bahaya merokok

Merokok membahayakan bagi hampir semua organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit dan memengaruhi kesehatan perokok secara umum. Bila Anda berhenti merokok, manfaatnya dapat Anda rasakan secara langsung maupun jangka panjang, bagi Anda maupun orang-orang yang Anda cintai. Besarnya bahaya merokok sebenarnya bukan tidak disadari oleh para perokok, karena pada setiap bungkus rokok kini terdapat peringatan wajib dari pemerintah yang berbunyi: “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.” Tetapi, seringkali kuatnya ketergantungan terhadap rokok membuat orang tidak mau berhenti mengisapnya, sampai sudah terlambat: ketika Anda divonis mengidap salah satu penyakit tersebut. Kanker Merokok menyebabkan sekitar 90% kematian akibat kanker paru pada pria dan 80% pada wanita. Risiko kematian karena kanker paru 23 kali lebih tinggi pada pria perokok dan 13 kali lebih tinggi pada wanita perokok dibandingkan pada mereka yang bukan perokok. Riset menunjukkkan bahwa bukan perokok yang tinggal bersama seorang perokok memiliki risiko 24% lebih tinggi untuk mengidap kanker paru dibandingkan bukan perokok pada umumnya. Merokok juga menyebabkan kanker kantung kencing, rongga mulut, faring, pita suara, esopagus, serviks, ginjal, pankreas dan perut. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Merokok menyebabkan penyakit jantung koroner yang merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Perokok memiliki peluang 2-4 kali lebih tinggi untuk mengidap penyakit jantung koroner dibandingkan bukan perokok. Perokok memiliki risiko terkena stroke dua kali lebih besar Merokok mengurangi sirkulasi darah karena menyempitkan pembuluh darah arteri. Oleh karena itu, perokok 10 kali lebih berpeluang terkena penyakit pembuluh darah, termasuk disfungsi ereksi/impotensi. Merokok menyebabkan anurisma aorta abdomen (pelebaran lokal pembuluh darah aorta di bagian perut). Risiko kematian akibat penyakit ini tinggi di kalangan perokok ketika pembuluh darah tersebut ruptur (pecah). Gangguan Pernafasan Merokok meningkatkan risiko kematian karena penyakit paru kronis hingga sepuluh kali lipat. Sekitar 90% kematian karena penyakit paru kronis disebabkan oleh merokok. Gangguan Janin Merokok berakibat buruk terhadap kesehatan reproduksi dan janin dalam kandungan, termasuk infertilitas (kemandulan), keguguran, kematian janin, bayi lahir berberat badan rendah, dan sindrom kematian mendadak bayi. Bagaimana Cara Rokok Merusak Tubuh? Nikotin mencapai otak dalam 10 detik setelah rokok dihisap, lalu menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui sirkulasi darah, termasuk pada Air Susu Ibu. Karbon monoksida dari asap rokok mengikat hemoglobin dalam sel darah merah, menurunkan fungsinya dalam menyalurkan oksigen secara penuh. Unsur-unsur penyebab kanker (karsinogen) pada tembako merusak gen-gen penting yang mengendalikan pertumbuhan sel, sehingga sel-sel tumbuh tidak normal atau berkembang terlau cepat. Unsur karsinogen yang bernama benzopiren mengikat sel-sel di saluran nafas dan organ penting lain dari perokok sehingga menyebabkan kanker. Sumber: http://majalahkesehatan.com/8-bahaya-merokok-yang-wajib-diketahui/