Rabu, 27 Maret 2013
Komp.Lembaga keu.Perbankan
Nama : Herru Hermawan.
NPM : 13210273.
Kelas : 3EA17.
Kegunaan money yaitu:
1. Alat tukar.
2. Satuan hitung.
3. Untuk mengukur kekayaan dan kemakmuran.
A mengalami kemajuan (i1) dan B mengalami jebangkrutan (i2). jika B ingin meminjam uang atau pasar modal kePT.A harus melalui Bank (i3) atau transfer of risk. Rumus bank (i2-i1=n) disebut interest spread.
3 macam-macam pasar modal, yaitu:
1. Capital gaim.
2. Obligasi= surat hutang (i) diskonto (3 bulan x 10%).
3. Stok atau saham= 40% akhir tahun (deviden).
Contoh Fanancial world flow:
Siti meminjam ke bank sebesar 10 juta untuk membuka AHM, tapi Siti harus mem[unya nama PT yaitu PT.Itis (leasing atau pembayaran)(i4-i2). Jika Siti meninggal, Siti tidak mau membayar hutang ke bank sebesar 10 juta. Maka Siti asuransi ke ABC premi=100 ribu up= 10 juta. ABC tidak mau membayar hutang Siti sepenuhnya kebank, maka ABC re-asuransi ke DEF premi= 60 ribu up= 60 juta. Setelah di re asuransi ABC premi= 40 ribu up= 40 juta. DEF tidak mau membayar hutang Siti yang banyak ke bank, maka DEF refrocessi ke GHI (hanya di Luar Negri) premi= 60 ribu up= 60 juta. Setelah di refrocessi ABC premi= 20 ribu up= 20 juta dan DEF premi= 20 ribu up= 20 juta. GHI juga tidak mau membayar hutang Siti yang banyak ke bank, maka GHI membuka cabang seperti: GH, GI, dan HI. Masing-masing cabang GHI membeli saham siti sebesar 20%.
Bank= prantara antara min dan max
Bank:
- Giro (danamd deposito).
- Tabungan (saving deposito).
- Deposito (time deposito).
- Kredit (load).
Posisi Dirjen Kosong, Jadi Alasan Harga Bawang Naik(Softskill Bahasa Indonesia 2)
Kenaikan harga bawang selain karena pembatasan impor hortikultura juga dipengaruhi oleh kekosongan posisi Dirjen Pengolahan dan Pengembangan Hasil Pertanian (PPHP) selama dua tahun terakhir. Saat ini, jabatan tersebut hanya dijabat seorang Pelaksana Tugas (Plt).
Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan, pemberlakukan kebijakan pembatasan impor produk hortikultura tersebut, telah berdampak pada keterlambatan proses pemberian Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dari Kementerian Pertanian. Ini menimbulkan masalah baru terkait banyaknya permohonan RIPH.
"Saya itu kaget saat mengetahui seorang Dirjen PPHP harus menandatangani 3.300 dokumen (RIPH). Dan juga satu item komoditas memerlukan satu SK. Ini tidak efektif, ini juga pada penomorannya harus dilakukan berbeda tempat," ujar Suswono, di Komisi IV Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (26/3/2013).
Suswono berharap, kondisi tersebut dapat disikapi oleh Sekretaris Kabinet, sehingga posisi Dirjen PPHP yang kosong, dapat segera digantikan. "Kami sih sudah ajukan usul, tapi oleh Sekretaris Kabinet kan belum diproses," katanya.
"Sedangkan untuk mengatasi kelambatan proses RIPH, Kementan akan lakukan revisi terhadap Permentan No 60 tahun 2012 tentang RIPH," tambah Suswono.
Dia menambahkan, memang sebelumnya Kementan menggelar pertemuan bilateral dengan Kemendag dan menyepakati dalam membangun dan mengintegrasikan sistem pelayanan secara elektronik. "Kami akan kaji kemungkinan proses pelayanan pada satu atap dan menyempurnakan Tim RIPH juga Tim Surat Persetujuan Impor (SPI) Kemendag," tukas dia.
Sumber: http://economy.okezone.com/read/2013/03/26/320/781743/posisi-dirjen-kosong-jadi-alasan-harga-bawang-naik
Penyerang LP Cebongan Diduga Terlatih dan Profesional (Softskill Bahasa Indonesia 2)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kasus penembakan di LP Cebongan Sleman.
Bahkan ia telah memerintahkan kepada seluruh jajaranya agar menjadikan kasus penembakan di LP Cebongan Sleman sebagai prioritas untuk segera dituntaskan.
“Kasus ini mendapatkan perhatian yang sangat besar dari Presiden. Presiden memastikan semua sistem menjadikan ini prioritas. Negara akan melakukan respon yang memadai dan maksimal,” ujar Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.
Menurut Daniel, selain telah menghasilkan ancaman serius terhadap rasa aman publik, serangan itu juga memporakporandakan kepercayaan umum terhadap supremasi hukum di Republik ini.
Presiden telah menginstruksikan Panglima TNI agar seluruh jajarannya bekerja sama penuh dan membantu Polri mengungkap identitas pelaku. (Ahmad Mustain)
Cepatnya dan rapinya penyerangan Lembaga Pemasyarakan (LP) Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu (23/3) dini hari, memunculkan dugaan dilakukan oleh kelompok bersenjata yang sangat terlatih dan profesional.
Pengamat kemiliteran dari UGM Muhammad Najib Azka di Sleman, Selasa (26/3), mengatakan melihat dari cara kerjanya, para pelaku sudah memperhitungkan betul waktu dan target sehingga cepat.
Dan melihat dari lokasi kejadian yang berada di LP, pelaku merupakan orang-orang yang terlatih dan profesional. “Ada petunjuk yang penting, yakni operasi dilakukan terhadap negara (LP Cebongan). Dan yang bisa melakukan operasi itu adalah kelompok yang sudah terlatih. Apalagi mereka bersenjata,” kata Najib.
Tetapi, dia enggan menduga lebih jauh mengenai pelaku penyerangan itu. “Namun kita tunggu hasil dari Komnas HAM, siapa pelakunya. Tapi yang jelas, mereka sangat terlatih dan profesional,” imbuhnya.
Pada 21 Maret, bertempat di Denpom IV/2 Yogyakarta, polisi menangkap pelaku pembacokan di Hugo's Cafe Maguwoharjo yang menewaskan anggota Kopassus Grup 2, Kandang Menjangan, Kartasura, Jawa Tengah, Sertu Heru Santosa. Kejadian pembacokan itu terjadi pada Selasa (19/3).
Lalu, pihak Polda DIY menitipkan 11 tahanan ke LP Cebongan pada Jumat (22/3) siang. Dari 11 tahanan itu termasuk empat tersangka pembacok Sertu Heru Santosa. Dan pada 23 Maret dini hari, dalam kurun sekitar 15 menit, gerombolan orang bersenjata laras panjang menyerang LP dan membunuh 4 dari 11 tahanan yang dititipkan.
Empat tahanan tewas dalam penyerangan yang berlangsung pada Sabtu (23/3) itu, yakni Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Diki, Yohanis Juan Mambait alias Juan, Gamaliel Yermiyanto Rohi Riwo alias Adi, dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi. (Furqon Ulya Himawan)
Sumber: http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/03/26/1/141653/Penyerang-LP-Cebongan-Diduga-Terlatih-dan-Profesional
Softskill Bahasa Indonesia 2
3. Ilmiah dan non ilmiah
Jawab:
A. Karya ilmiah lazim juga disebut karangan ilmiah. Lebih lanjut, Brotowidjoyo menjelaskan karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).
Karya ilmiah atau dalam bahasa Inggris (scientific paper) adalah laporan tertulis dan publikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya semua itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan.
Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah biasa dijadikan acuan (referensi) ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya. Isi (batang tubuh) sebuah karya ilmiah harus memenuhi syarat metode ilmiah.
Menurut John Dewey ada 5 langkah pokok proses ilmiah, yaitu:
1) mengenali dan merumuskan masalah.
2) menyusun kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis.
3) merumuskan hipotesis atau dugaan hasil sementara.
4) menguji hipotesis.
5) menarik kesimpulan.
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang tertentu yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian. Dalam beberapa hal, ketika mahasiswa melakukan praktikum, ia sebetulnya sedang melakukan verifikasi terhadap proses penelitian yang telah dikerjakan ilmuwan sebelumnya. Kegiatan praktikum didesain pula untuk melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.
Ciri Karya Ilmiah
Secara ringkas, ciri-ciri karya ilmiah dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Objektif.
Keobjektifan ini tampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek (memvertifikasi) kebenaran dan keabsahannya.
2. Netral.
Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
3. Sistematis.
Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
4. Logis.
Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
5. Menyajikan Fakta (bukan emosi atau perasaan).
Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.
6. Tidak Pleonastis
Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat. Kata-katanya jelas atau tidak berbelit- belit (langsung tepat menuju sasaran).
7. Bahasa yang digunakan adalah ragam formal.
Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non Ilmiah
Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek. Pertama, karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi. Kedua, karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi. Ketiga, dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semiilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semiilmiah.
Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama. Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis.
Karya nonilmiah bersifat:
1) Emotif: kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
2) persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
3) deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
4) jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
B. KARYA NON ILMIAH
Karya tulis non-ilmiah (karya non ilmiah) adalah karya tulis ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya tulis non-ilmiah itu pun bervariasi bahan topiknya dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung oleh fakta umum. Bahasanya mungkin kongkret atau abstrak, gaya bahasanya mungkin formal dan teknis, atau formal dan populer.
Karya tulis ilmiah dapat dibedakan dengan karya tulis non ilmiah, dimana karya tulis non ilmiah sangat bersifat subjektif.
Sifat karya non ilmiah :
1) Emotif, lebih merupakan refleksi dari sebuah perasaan yang terkadang melampaui kebenaran.
2) Persuasif, yaitu bersifat mempengaruhi pikiran pembaca.
3) Deskriptif subjektif, dalam arti tidak didukung oleh data dan fakta.
4) Terkadang over claiming. Karya-karya non ilmiah ini terutama dapat dilihat dalam bentuk karya-karya seni, seperti cerpen, novel, puisi, komik, dan lain-lain yang sejenisnya.
Macam-macam karya non ilmiah :
-Cerpen.
-Suatu bentuk naratif fiktif.
-Cerita pendek yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang.
-Dongeng.
-Merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, diakhir cerita biasanya mengandung pesan moral.
-Roman.
-Sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau ganjaran yang isinya menggambarkan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.
-Novel.
-Sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif, biasanya dalam bentuk cerita.
-Drama.
-Suatu bentuk karya sastra yang memilki bagian untuk diperankan oleh aktor.
KARANGAN SEMI ILMIAH
Karangan semi ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan. Penulisannya pun tidak semi formal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah. Penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi. Jenis karangan semi ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam opini, editorial, resensi, anekdot, hikayat, dan karakteristiknya berada diantara ilmiah. Karangan semi ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum tetapi tidak seperti metode ilmiah yang sintesis analitis karena sering dimasukkan karangan non ilmiah.
Karangan semi ilmiah sering disebut karangan ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semi ilmiah ini dengan karangan ilmiah dan non ilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan karangan semi ilmiah, ilmiah, dan non ilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semi ilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semi ilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semi ilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaries) yang tidak selalu terdapat pada karangan semi ilmiah.
sumber :
http://yulandari.wordpress.com/2012/03/26/perbedaan-antara-karangan-ilmiah-karangan-non-ilmiah-karangan-semi-ilmiah/
Softskill Bahasa Indonesia 2
2. Carilah kasus dianalisis kaitkan dengan penggunaan metode ilmiah ?
Jawab:
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisik. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Karakterisasi Metode Ilmiah
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat.
Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti laboratorium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi. Pengukuran dalam karya ilmiah biasanya juga disertai dengan estimasi ketidakpastian hasil pengukuran tersebut. Ketidakpastian tersebut sering diestimasikan dengan melakukan pengukuran berulang atas kuantitas yang diukur
Langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Perumusan masalah
Perumusan masalah adalah langkah awal dalam melakukan kerja ilmiah. Masalah adalah kesulitan yang dihadapi yang memerlukan penyelesaiannya atau pemecahannya. Masalah penelitian dapat di ambil dari masalah yang ditemukan di lingkungan sekitar kita, baik benda mati maupun makhluk hidup. Misalnya, saat kamu berada di pantai dan mengamati ombak di lautan. Pada saat itu di pikiranmu mungkin timbul pertanyaan, mengapa terjadi ombak? Atau, bagaimanakah cara terjadinya ombak? Untuk dapat merumuskan permasalahan dengan tepat, maka perlu melakukan identifikasi masalah.Agar permasalahan dapat diteliti dengan seksama, maka perlu dibatasi. Pembatasan diperlukan agar kita dapat fokus dalam menyelesaikan penelitian kita.
Hal-hal yang harus diperhatikan di dalam merumuskan masalah, antara lain sebagai berikut :
-Masalah hendaknya dapat dinyatakan dalam bentuk kalimat Tanya.
-Rumusan masalah hendaknya singkat, padat, jelas dan mudah dipahami. Rumusan masalah yang terlalu panjang akan sulit dipahami dan akan menyimpang dari pokok permasalahan.
-Rumusan masalah hendaknya merupakan masalah yang kemungkinan dapat dicari cara pemecahannya. Permasalahan mengapa benda bergerak dapat dicari jawabannya dibandingkan permasalahn apakah dosa dapat diukur.
2. Perumusan hipotesis
Ketika kita mengajukan atau merumuskan pertanyaan penelitian, maka sebenarnya pada saat itu jawabanya sudah ada dalam pikiran. Jawaban tersebut memang masih meragukan dan bersifat sementara, akan tetapi jawaban tersebut dapat digunakan untuk mengarahkan kita untuk mencari jawaban yang sebenarnya. Pernyataan yang dirumuskan sebagai jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian disebut sebagai hipotesis penelitian. Hipotesisi penelitian dapat juga dikatakan sebagai dugaan yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah sebelum dibuktikan kebenarannya. Oleh karena berupa dugaan maka hipotesis yang kita buat mungkin saja salah. Ileh karena itu, kita harus melakukan sebuah percobaan untuk menguji kebenaran hipotesis yang sudah kita buat.
3. Perancangan penelitian
Sebelum dilakukan penelitian terlebih dahulu harus dipersiapkan rancangan penelitiannya. Rancangan penelitian ini berisi tentang rencana atau hal-hal yang harus dilakukan sebelum, selama dan setelah penelitian selesai. Metode penelitian, alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian juga harus disiapkan dalam rancangan penelitian.
Penelitian yang kita lakukan dapat berupa penelitian deskriptif maupun penelitian eksperimental. Penelitian deskripsi merupakan penelitian yang memberikan gambaran secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta dan sifat-sipat objek yang diselidiki. Contoh dari penelitian deskriptif, misalnya penelitian untuk mengetahui populasi hewan komodo yang hidup di Pulau komodo pada tahun 2008.
Adapun penelitian eksperimental merupakan penelitian yang menggunakan kelompok pembanding. Contoh penelitian eksperimental, misalnya penelitian tentang perbedaan pertumbuhan tanaman di tempat yang terkena matahari dengan pertumbuhan tanaman di tempat yang gelap.
Selain rancangan penelitian, terdapat beberapa faktor lain yang juga harus diperhatikan. Faktor pertama adalah variabel penelitian, sedangkan yang kedua adalah populasi dan sampel. Variabel merupakan faktor yang mempengaruhi hasil penelitian. Populasi merupakan kumpulan/himpunan dari semua objek yang akan diamati ketika melakukan penelitian, sedangkan sampel merupakan himpunan bagian dari populasi.Didalam penelitian, variabel dapat dibedakan menjadi :
-Variabel bebas yaitu variabel yang sengaja mengalami perlakuan atau sengaja diubah dan dapat menentukan variabel lainnya (variabel terikat).
-Variabel terikat yaitu variabel yang mengalami perubahan dengan pola teratur (dipengaruhi oleh variabel bebas).
-Variabel control yaitu variabel yang digunakan sebagai pembanding dan tidak mengalami perlakuan atau tidak diubah-ubah selama penelitian.
4. Pelaksanaan penelitian
Langkah langkah pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :
a. Persiapan penelitian biasanya diwujudkan dalam pembuatan rancangan penelitian. Alat, bahan, tempat, waktu dan teknik pengumpulan data juga harus dipersiapkan dengan baik.
b. Pelaksanaan.
Pengumpulan/pengambilan data
a) Data kualitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan alat indra, seperti indra penglihatan (mata), indra penciuman (hidung), indra pengecap (lidah), indra pendengaran (telinga), dan indra peraba (kulit). Contohnya adalah ketika kita melakukan pengamatan buah mangga maka data kualitatif yang dapat kita peroleh adalah mengenai rasa buah, warna kulit, dan daging buah, serta wangi atau aroma buah.
b) Data kualitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil pengukuran sehingga akan diperoleh data berupa angka-angka. Contohnya adalah data mengnai berat buah mangga,ketebalan daging buah, diameter buah mangga.
Pengolahan data, setelah data-data yang kita perlukan berhasil dikumpulkan maka tahapan selanjutnya adalah melakukan pengolahan atau analisis data. Data yang kita peroleh dapat ditulis atau kita nyatakan dalam beberapa bentuk, seperti table, grafik dan diagram.
Menarik kesimpulan, setelah pengolahan data melalui analisis selesai dilakukan maka kita dapat mengetahui apakah hipotesis yang kita buat sesuai dengan hasil penelitian atau mungkin juga tidak sesuai. Selanjutnya kita dapat mengambil kesimpilan dari penelitian yang telah kita lakukan. Kesimpulan yang kita peroleh dari hasil penelitian dapat mendukung hipotesis yang kita buat, tetapi kesimpulan yang kita ambil harus dapat menjawab permasalahan yang melatarbelakangi penelitian.
5. Pelaporan penelitian
Sistematika penyusunan laporan penelitian:
-Pendahuluan, bagian pendahuluan merupakan bagian awal dari laporan hasil penelitian dan berisi tentang latar belakang dilaksanakannya penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan hipotesis.
-Telaah kepustakaan/kajian teori, bagian kajian teori merupakan bagian yang berisi tentang hasil telaah yang dilakukan oleh peneliti terhadap teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.
-Metode penelitian, berisi segala sesuatu yang dilakukan oleh peneliti mulai dari persiapan, pelaksanaan dan akhir dari sebuah penelitian. Bagian metode penelitian berisi tentang teknik pengambilan data, cara atau teknik pengolahan data, populasi dan sampel, alat, bahan, tempat dan waktu penelitian.
-Hasil dan pembahasan penelitian, berisi tentang data hasil penelitian yang berhasil dikumpulkan selama penelitian. Data yang diperoleh disampaikan dalam bentuk grafik, tabel , atau diagram.
-Kesimpulan dan saran, berisi tentang kesimpulan yang dihasilkan merupakan jawaban terhadp hipotesis yang sudah diuji kebenarannya. Saran dari peneliti kepada pihak lain, yaitu pembaca dan bagi peneliti lainnya untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya.
Contoh Kasus :
JAKARTA (Pos Kota) - Kasus dugaan suap Rp1 miliar yang dilakukan PT Indoguna Utama terhadap mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq masih terus bergulir. Bagaimana seorang pengusaha sampai berani memberikan suap hingga puluhan miliar, tentunya hal itu sudah diperhitungan matang. Importir yang biasa melakukan kegiatannya di Pelabuhan Tanjung Priok merasakan betapa empuknya bisnis daging impor sehingga menjadi rebutan. Keuntungan yang didapat dari daging beku bisa mencapai 100 persen. Saat ini, ada tiga negara pengekspor daging ke Indonesia. Australia memasok 75 persen, Selandia Baru 20 persen dan Amerika Serikat 5 persen. Sedangkan, harga daging sapi beku di ketiga negara itu kata importir daging yang tidak mau disebutkan namanya, sekitar 4-5 dolar AS/Kg atau Rp 37.800/Kg. Ditambahkan biaya ongkos kirim atau pengapalan hingga sampai di gudang importir di Indonesia serta asuransi perjalanan sekitar 25 persen dari harga beli atau kurang lebih Rp10.000/Kg.
Dengan demikian, jika dibulatkan harga daging impor sampai ke Indoneisa sekitar Rp50 ribu/Kg. Sedangkan dijual di pasaran saat ini kisaran Rp85 ribu hingga Rp95 ribu. Importir bisa mengantongi keuntungan rata-rata Rp40 ribu/Kg. Kalau PT Indoguna Utama, yang mendapatkan jatah kuota 3.500-5.000 ton atau 5 juta Kg jika dikalikan keuntungan Rp40 ribu/Kg, maka keuntungan besar perusahaan ini di atas Rp200 miliar lebih. Untuk tahun 2013 ini, pemerintah sudah menetapkan kuota impor daging sapi sebesar 80.000 ton. Dari jumlah tersebut 32.000 ton untuk impor daging beku, sisanya sapi bakalan. Dari 32.000 ribu ton itu, PT Indoguna Utama mendapatkan 3.500-5 ribu ton (kurang lebih 10 persen) sisanya dibagikan hampir 100 importir daging lainnya. Sedangkan Kementrian Perdagangan telah menetapkan harga per kilogram daging di pasaran saat ini sekitar Rp80 ribu. Jika dikalikan dengan 8 ribu ton, maka perputaran uang daging tahun ini sekitar Rp6,4 triliun. Dengan keuntungan yang luar biasa ini semakin banyak orang berlomba mencari beking dan membayar tinggi pihak tertentu agar perusahaan mereka bisa mendapatkan jatah kuota daging dan memperoleh surat izin impor daging dari pemerintah.
KURANGI JUMLAH
Ketua Aspidi (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia) , Thomas Sembiring mengungkapkan setiap tahun pemerintah mengurangi jumlah atau volume daging impor dengan alasan pemerintah tengah melakukan swasembada daging. Tahun lalu kouta daging impor di atas 90 ribu ton tapi tahun 2013 hanya 80 ribu ton. Akibatnya ‘kue’ yang diperebutkan semakin sedikit sedangkan yang membutuhkan semakin banyak, maka wajar jika pengusaha mencari celah agar bisa mendapatkan kuota daging impor.
Menurut Thomas Sembiring, dari 80 ribu ton, 32 ribu ton untuk daging beku dan harus diperebutkan oleh 62 perusahaan impor. “Kaus suap ini karena kouta yang kecil, membuat perusahaan importir daging menjerit dan terpaksa mencari jalan lain untuk mendapatkan kouta lebih. ”Adapun urusan daging impor kata Sembiring ada di tiga kementrian yakni untuk izin impor daging sapi harus dikeluarkan oleh kementerian teknis yaitu Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Peternakan untuk kemudian disahkan Kementerian Perdagangan dan Menko Perekonomian. Kendati ijin diberikan oleh Kemendag, namun penentuan surat izin impor daging sapi ada di Kementan.
Menurut sumber pengusaha lainnya, peraturan yang tidak tertulis menetapkan bahwa importir yang ingin mendapatkan izin impor daging harus membayar Rp5.000 per kilogram kuota yang diperoleh. Jika tahun 2013 ini ada 80.000 ton daging yang akan diimpor pada tahun 2013,maka ada potensi penerimaan sebesar Rp400 miliar yang bisa diperoleh dari pemberian izin kuota impor daging sapi di kantor Kementan. Sedangkan untuk impor tepung tulang (meat bone meal) turunan daging untuk makanan ternak, importirnya dikenakan setiap kilogramnya harus membayar upetinya sebesar Rp2.000,-.
Pengambilan Konsep
Dari kasus yang telah disediakan, dapat di ambil konsep “untungnya berbisnis daging impor”.
Hipotesis Sementara
Dari hasil yang telah di telaah maka harga daging impor sampai ke Indonesia sekitar Rp50 ribu/Kg. Sedangkan dijual di pasaran saat ini kisaran Rp85 ribu hingga Rp95 ribu. Importir bisa mengantongi keuntungan rata-rata Rp40 ribu/Kg. Kalau PT Indoguna Utama, yang mendapatkan jatah kuota 3.500-5.000 ton atau 5 juta Kg jika dikalikan keuntungan Rp40 ribu/Kg, maka keuntungan besar perusahaan ini di atas Rp200 miliar lebih.
Pembuktian Hipotesis
Tiga negara pengekspor daging ke Indonesia. Australia memasok 75 persen, Selandia Baru 20 persen dan Amerika Serikat 5 persen. Sedangkan, harga daging sapi beku di ketiga negara itu kata importir daging yang tidak mau disebutkan namanya, sekitar 4-5 dolar AS/Kg atau Rp 37.800/Kg. Ditambahkan biaya ongkos kirim atau pengapalan hingga sampai di gudang importir di Indonesia serta asuransi perjalanan sekitar 25 persen dari harga beli atau kurang lebih Rp10.000/Kg. Dengan demikian, jika dibulatkan harga daging impor sampai ke Indoneisa sekitar Rp50 ribu/Kg. Sedangkan dijual di pasaran saat ini kisaran Rp85 ribu hingga Rp95 ribu. Importir bisa mengantongi keuntungan rata-rata Rp40 ribu/Kg. Kalau PT Indoguna Utama, yang mendapatkan jatah kuota 3.500-5.000 ton atau 5 juta Kg jika dikalikan keuntungan Rp40 ribu/Kg, maka keuntungan besar perusahaan ini di atas Rp200 miliar lebih. Untuk tahun 2013 ini, pemerintah sudah menetapkan kuota impor daging sapi sebesar 80.000 ton. Dari jumlah tersebut 32.000 ton untuk impor daging beku, sisanya sapi bakalan. Dari 32.000 ribu ton itu, PT Indoguna Utama mendapatkan 3.500-5 ribu ton (kurang lebih 10 persen) sisanya dibagikan hampir 100 importir daging lainnya.
Sedangkan Kementrian Perdagangan telah menetapkan harga per kilogram daging di pasaran saat ini sekitar Rp80 ribu. Jika dikalikan dengan 8 ribu ton, maka perputaran uang daging tahun ini sekitar Rp6,4 triliun. Dengan keuntungan yang luar biasa ini semakin banyak orang berlomba mencari beking dan membayar tinggi pihak tertentu agar perusahaan mereka bisa mendapatkan jatah kuota daging dan memperoleh surat izin impor daging dari pemerintah.
Kesimpulan
Importir yang biasa melakukan kegiatannya di bidang perdagangan impor merasakan betapa empuknya bisnis daging impor sehingga menjadi rebutan. Keuntungan yang didapat dari daging beku bisa mencapai 100 persen. Dengan keuntungan yang luar biasa ini semakin banyak orang berlomba mencari beking dan membayar tinggi pihak tertentu agar perusahaan mereka bisa mendapatkan jatah kuota daging dan memperoleh surat izin impor daging dari pemerintah.
Akan tetapi Ketua Aspidi (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia) , mengungkapkan setiap tahun pemerintah mengurangi jumlah atau volume daging impor dengan alasan pemerintah tengah melakukan swasembada daging. Tahun lalu kouta daging impor di atas 90 ribu ton tapi tahun 2013 hanya 80 ribu ton. “Kaus suap ini karena kouta yang kecil, membuat perusahaan importir daging menjerit dan terpaksa mencari jalan lain untuk mendapatkan kouta lebih”. Adapun urusan daging impor kata Sembiring ada di tiga kementrian yakni untuk izin impor daging sapi harus dikeluarkan oleh kementerian teknis yaitu Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Peternakan untuk kemudian disahkan Kementerian Perdagangan dan Menko Perekonomian
Sumber
http://www.poskotanews.com/2013/02/02/empuknya-bisnis-impor-daging-2/
http://gogopratamax.blogspot.com/2012/04/pengertian-karakteristik-dan-langkah.html
Softskill Bahasa Indonesia 2
1. Bagaimana penalaran digunakan dalam proses bahasa ?
Jawab:
Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis(antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Metode dalam menalar
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu :
1.Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Penalaran Induktif merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. keuntungannya adalah bersifat ekonomis dimungkinkan proses penalaran selanjutnya. Penalaran induktif mengambil contoh-contoh khusus yang khas untuk kemudian diambil kesimpulan yang lebih umum. Penalaran ini memudahkan untuk memetakan suatu masalah sehingga dapat dipakai dalam masalah lain yang serupa. Catatan bagaimana penalaran induktif ini bekerja adalah, meski premis-premis yang diangkat benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, kesimpulannya belum tentu benar, tapi kesimpulan tersebut mempunyai peluang untuk benar. Penalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan statistik.
Penalaran induktif terkait dengan empirisme. Secara empirisme, ilmu memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Sebelum teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat sementara. Penalaran induktif ini berpangkal pada fakta empiris untuk menyusun suatu penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum. Induksi berlangsung dengan generalisasi dan ekstrapolasi pendapat dimana tidak mungkin mengamati semua fakta yang ada, sehingga kesimpulan induktif bersifat logical probability.
Contohnya, kambing tinggal di bumi, gajah tinggal di bumi, begitu juga dengan singa dan binatang-binatang lainnya. Secara induksi dapat disimpulkan bahwa semua binatang tinggal di bumi.
Metode penalaran induktif adalah adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Jenis Jenis Penalaran Induktif :
a. Generalisasi
Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tadi.
Contoh :
Tamara Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi : Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya:
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.
Macam-macam generalisasi
Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
Generalisasi dapat dibedakan dalam beberapa bentuk :
- Loncatan Induktif
Sebuah generalisasi yang bersifat loncatan induktif tetap bertolak dari beberapa fakta, namun fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Fakta-fakta tersebut atau proposisi yang digunakan itu kemudian dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan.
Contoh : Bila ahli-ahli filologi Eropa berdasarkan pengamatan mereka mengenai bahasa-bahasa Ido-German kemudian menarik suatu kesimpulan bahwa di dunia terdapat 3.000 bahasa.
- Tanpa Loncatan Induktif
Sebuah generalisasi tidak mengandung loncatan induktif bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali. Misalnya, untuk menyelidiki bagaimana sifat-sifat orang Indonesia pada umumnya, diperlukan ratusan fenomena untuk menyimpulkannya.
b. Analogi
Analogi adalah proses penalaran yang berdasarkan pembagian dan terhadap sejumlah gejala khusus yang memiliki kesamaan kemudian ditarik kesimpulan. Analogi juga berarti suatu perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai hubungan dengan gagasan yang pertama. Ada juga yang mengartikan bahwa analogi merupakan proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk suatu hal akan berlaku pula pada hal lain. Analogi dapat diperinci untuk tujuan berikut :
- Untuk meramalkan kesamaan
- Untuk menyingkap kekeliruan
- Untuk menyusun sebuah klasifikasi
c. Kausalitas
Kausalitas merupakan perinsip sebab-akibat yang dharuri dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Pada umumnya hubungan sebab akibat dapat berlangsungdalam tiga pola, yaitu sebab ke akibat, akibat ke sebab, dan akibat ke akibat. Namun, pola yang umum dipakai adalah sebab ke akibat dan akibat ke sebab. Ada 3 jenis hubungan kausal, yaitu:
- Hubungan sebab-akibat.
Yaitu dimulai dengan mengemukakan fakta yang menjadi sebab dan sampai kepada kesimpulan yang menjadi akibat. Pada pola sebab ke akibat sebagai gagasan pokok adalah akibat, sedangkan sebab merupakan gagasan penjelas.
Contoh:
Anak-anak berumur 7 tahun mulai memasuki usia sekolah. Mereka mulai mengembangkan interaksi social dilingkungan tempatnya menimba ilmu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan demikian, berbagai karakter anak mulai terlihat karena proses sosialisasi itu.
- Hubungan akibat-sebab.
Yaitu dimulai dengan fakta yang menjadi akibat, kemudian dari fakta itu dianalisis untuk mencari sebabnya.
Contoh:
Dalam bergaul anak dapat berprilaku aktif. Sebaliknya, ada pula anak yang masih malu-malu dan selalu dan mengandalkan temannya. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ada anak yang selalu mambuat ulah. Hal ini disebabkan oleh interaksi sosial yang dilakukan anak ketika memasuki usia sekolah.
- Hubungan sebab-akibat1-akibat2
Yaitu dimulai dari suatu sebab yang dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianlah seterusnya hingga timbul rangkaian beberapa akibat.
Contoh :
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutan pun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
d. Salah Nalar
Salah nalar adalah kesalahan struktur atau proses formal penalaran dalam menurunkan kesimpulan sehingga kesimpulan tersebut menjadi tidak valid. Jadi berdasarkan pengertian tersebut, salah nalar bisa terjadi apabila pengambilan kesimpulan tidak didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid. Terdapat beberapa bentuk salah nalar yang sering kita jumpai, yaitu: menegaskan konsekuen, menyangkal antiseden, pentaksaan, perampatan-lebih, parsialitas, pembuktian analogis, perancuan urutan kejadian dengan penyebaban, serta pengambilan konklusi pasangan.
2. Metode deduktif
Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status social.
Macam-macam penalaran deduktif diantaranya :
a. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan.
b. Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
SUMBER SUMBER :\
http://nadiachya.blogspot.com/2012/03/penalaran-deduksi-dan-induksi.html
http://punyalinieasmara.blogspot.com/2013/03/penalaran-dalam-proses-berbahasa.html
http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/wacana/173-penalaran.html
Langganan:
Komentar (Atom)